RedJoss.com – Seberapa panjang kita harus bersabar?
Pertanyaan itu sering kali mengusik hati, ketika masalah hidup kita tidak segera teratasi. Doa kita seakan tidak terjawab. Persoalan demi persoalan semakin menumpuk. Dan, dada ini menyesak, karena sakit.
Masalah itu sebenarnya datang dari pikiran kita sendiri. Bukan berasal dari perilaku orang lain, situasi kondisi gara-gara pandemi yang membuat usaha bangkrut, keuangan merosot, dan seterusnya.
Persoalan itu ada, menjadi rumit dan sulit, karena kita sendiri yang memikirkannya secara njelimet. Kita baperan, terbawa emosi, atau lebih mengedepankan ego sendiri.
Diremehkan orang, kita mudah korslet dan tersinggung. Dihina orang, harga diri kita berasa diinjak-injak. Digosipkan yang negatif dan jelek, kita segera merespons untuk membela diri.
Berbeda masalahnya jika kita bersikap tenang dan berpikir positif dalam menghadapi persoalan yang muncul.
Kita tidak mudah reaktif, tapi mampu mengontrol diri dengan hati yang bening.
Dengan berprasangka baik, hati kita tidak mudah tersinggung, tersakiti, dan membenci orang yang menghina, melecehkan, bahkan meskipun kita difitnah.
Persoalan itu muncul dan menjadi masalah ketika kita tidak berani menerima kenyataan dan cenderung mengikuti ego sendiri. Semakin dipikir, persoalan yang kecil itu menjadi besar dan rumit.
Sebaliknya masalah yang berat, rumit, dan sulit itu dapat kita urai, ketika kita berani mengelola dan menyederhanakannya.
Kunci utamanya adalah sabar, rendah hati, dan mengandalkan Allah.
Dengan bersikap sabar, kita belajar untuk mendahulukan kepentingan orang lain tanpa tendensi, apalagi untuk menghakimi. Kita tidak grusa-grusu, atau emosian dalam menyikapi berbagai persoalan.
Rendah hati membuat kita mampu berpikir tenang dan jernih. Sehingga, persoalan yang muncul semakin tergambar jelas untuk dikelola dengan baik dan diselesaikannya.
Kita mengandalkan Allah, karena sejatinya hidup kita milik-Nya, agar kita dimampukan dan menjadi kuat untuk menghadapi masalah yang berat, rumit, atau sulit. Karena, Allah Maha Besar dari segala yang kita hadapi dan jalani di dunia ini.
Ikhlas, sejatinya puncak hidup kita agar menjalani hidup ini tanpa beban. Hidup pun berasa semakin dimudahkan Allah. Tentram, damai, dan bahagia.
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

