RedJoss.com – Siapa dari kita yang tidak punya utang? Tidak usah malu, apalagi berlagak sok kaya, sok gengsi, dan sok ngebos.
Berutang itu hal biasa. Tidak perlu ditutupi atau disembunyikan. Seharusnya kita bangga. Sebab, hidup tanpa utang itu ibarat makan sayur tanpa garam.
Lho, tidak setuju dengan berutang? Oo, keputusan itu patut dihargai dan didukung. Karena, jangan gara-gara gengsi, kita berani berutang.
Hidup sederhana itu juga pilihan bijak. Lebih baik kita mensyukuri yang ada, dan bahagia.
Tidak punya utang itu baik. Yang penting, kita hidup tenang dan nyaman.
Namun, ada juga dari kita yang punya prinsip: tanpa utang, hidup itu kurang bergairah, tidak ada tantangan, dan tidak semangat.
Umumnya fakta itu dikemukakan oleh para pebisnis. Suntikan modal alias utang mereka butuhkan untuk memantapkan usaha, pengembangan, dan ekspansi.
Selain itu, ada juga dari kita yang berutang karena tuntutan hidup. Untuk berobat ke dokter, biaya sekolah, atau untuk makan sehari-hari.
Bagaimana kita menyikapi utang atau orang yang berutang kepada kita?
Utang itu hukumnya wajib. Cepat atau lambat, utang itu harus dibayar dan dilunasi.
Bagi yang berutang, kita wajib mengingatkan, minimal tiha kali. Kalau tidak mau membayar, ya, lupakan…!
Lho, enakan dia dong! Kita kerja mati-matian, dia yang ngemplang! Nilep!
Lalu, apa kita mau mendatangkan aparat, rumah kontrakannya disita? Berapa lama waktu kita untuk menagih? Semua itu butuh perjuangan, waktu, energi, uang, dan segalanya. Bisa jadi kita malah menjadi stres memikirkan utang yang tidak dibayar, lalu sakit.
Lebih baik kita berlapang dada. Utang itu bukannya untuk disesali. Lebih tenang kalau urusan utang itu diserahkan kepada Allah yang Maha Pemberi. Mengapa? Kita ini tidak lebih hanya diberi HGP: Hak Guna Pakai. Semua itu milik Allah.
Memang banyak orang mempunyai anggapan dan menggampangkan, bahwa utang yang tidak dibayar, di dunia itu menjadi beres. Tidak! Di akhirat kita juga akan ditagih Allah.
“Sebelum menghadap Allah, hendaknya kita berdamai dengan saudara atau membereskan urusan yang di dunia terlebih dahulu.”
Alangkah bijak, bila utang itu kita serahkan kepada Allah? yang Maha Memiliki. Kita serahkan juga tanggung jawab itu kepada-Nya agar kita semakin giat bekerja dan dilimpahi rezeki. Sehingga, pikiran dan hati kita menjadi tentram.
Jadi, siapa daru.kita yang tidak punya utang?
Tak ada seorang pun di dunia ini yang tidak mempunyai utang. Kita berutang kebaikan kepada orangtua, sahabat, dan bisa pada siapa saja. Kita harus membayar utang itu dan mengembalikannya. Caranya, dengan berbuat baik kepada sesama.
Begitu pula utang kita kepada Sang Pencipta yang tidak bisa dijabarkan dengan kata, pikiran, dan perasaan. Kita berutang oksigen yang dihirup (berapa nilainya?), kesehatan, dan seterusnya.
Intinya, kita harus mengimani Allah untuk taat dan setia kepada-Nya. Dengan berbuat baik dan murah hati kepada sesama. Hingga saat yang terindah itu tiba… untuk menghadap dan mempertanggungjawabkan hidup kita kepada-Nya.
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

