| Red-Joss.com | Plong rasanya, ketika “saweran” (kumpulkan sesuatu, umpama uang untuk membantu biaya operasi seseorang yang kesulitan) dapat mengurangi bebannya.
Kalau seseorang benar-benar memiliki perasaan telah berkontribusi (ambil peran), dia tidak lagi memerlukan pengakuan dari orang lain. Karena dia sudah memiliki kesadaran yang sejati, bahwa “aku berguna bagi seseorang,” tanpa perlu mengeluarkan upaya lebih untuk bisa diakui oleh orang lain.
Plong itu terjadi, jikalau bahagia atau senangnya hati kita ini tidak ditentukan oleh pengakuan orang lain, tapi oleh tujuannya.
Plong dimulai dari cara seseorang menghargai diri sendiri. Dia tak akan pernah merasa benar-benar plong, jika masih terus bermimpi menjadi seperti dunia ini mengejar harga, yakni dikagumi.
Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu layak kudus, ya Tuhan, untuk sepanjang masa. Bait Tuhan adalah hati dan mereka yang kita layani. Jika itu teguh, maka pasti “PLONG”. (Mz 93:5)
Salam pagi dan bangunlah, matahari telah terbit.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

