| Red-Joss.com | Sesekali coba kecap, rasakan, dan nikmati kegagalan, kedukaan, atau penderitaan itu.
Lepaskan penyangkalan diri untuk tidak mengeluh, ngomel, apalagi untuk menyalahkan orang lain.
Terimalah semua itu dengan hati terbuka dan sadar diri. Kenapa hal ini terjadi dan ada hikmah apa di balik semua itu?
Hidup itu hikmat, ketika kita refleksikan diri apa pun yang terjadi dan dialami itu untuk disyukuri sebagai nikmat dari Allah.
Dengan merefleksikan diri, kita belajar untuk berpikir jernih dan hati yang bening untuk melihat hal baik dan positif dari setiap peristiwa.
Tidak ada hal yang buruk atau jelek, karena kita melihat dari kacamata positif. Hidup itu hikmat, sumber segala yang baik itu dari Allah.
“Sesungguhnya, kita diuji oleh pikiran sendiri agar kita rendah hati dan hidup berkenan bagi Allah,” kata Pak A bergetar menahan haru, sedang tangannya menggenggam erat jari-jari istrinya yang tergolek di ranjang tanpa daya.
Saya terperangah. Hati ini langsung bergetar mendengar kata-kata bijak yang membetot jiwa itu.
Bagaimana tidak. Dari raut wajah, sorot mata, dan genggaman kasih pada istrinya itu sebagai ungkapan jiwa yang jujur, tabah, dan tulus.
Sesungguhnya yang membuat saya kagum sekagumnya pada pribadi Pak A adalah keikhlasan hatinya untuk mengopeni istrinya yang tiga tahun ini berbaring di tempat tidur, karena stroke.
Beruntung, kesempatan itu datang dari tempatnya bekerja. Ia ditawari pensiun dini. Kesempatan itu segera dimanfaatkan dengan baik agar ia dapat mengopeni istri.
Beruntung pula, anak semata wayangnya yang belum lama lulus kuliah itu memperoleh pekerjaan.
“Tuhan amat baik pada keluarga saya. Semua itu telah disiapkan-Nya. Hidup ini tidak ada yang ndilalah, tapi ketetapan-Nya.”
Untuk yang kesekian kalinya pula kata-kata Pak A mengharu birukan hati ini. Makna kata-katanya yang dalam itu sungguh meneguhkan jiwa.
Saya sungguh salut dan menaruh hormat setinggi-tingginya pada Pak A. Semangat mendampingi istrinya yang sakit dan lumpuh itu membuat banyak orang salut padanya. Bisa juga ada orang menganggapnya bodoh.
Bagaimana tidak. Pak A rela pensiun dini demi mengopeni istri. Padahal ia bisa menggaji ART, dan bekerja. Tapi ia tidak melakukan itu. Alasannya sederhana, karena anak juga suda bekerja. Sehingga beban keluarga terasa lebih ringanan.
Sesungguhnya yang membuat saya salut sesalutnya pada Pak A adalah mengopeni istri itu bukan suatu beban, melainkan tanggung jawab. Karena mereka telah dipersatukan dalam pernikahan suci untuk selalu bersama arungi suka-duka.
“Ada sebahagian orang bilang, saya ini bodoh, karena dianggap menyia-nyiakan karier demi mengopeni istri. Jujur, padahal saya tidak merasa tersiksa dan terbebani. Tapi saya bahagia. Saya dapat melakukan aktivitas berkebun, piara ikan, atau beberes rumah. Jika ada acara penting, saya minta tolong Mbak di sebelah rumah menemani Ibu.“
Sesungguhnya, beban berat hidup itu dapat diubah jadi berkat, ketika kita selalu sujud syukur pada Allah untuk melihat hikmah dari setiap peristiwa.
Bahagia itu pilihan, ketika kita menanggapi dan membalas belas kasih Allah untuk taat dan setia pada-Nya.
…
Mas Redjo

