Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Mari, kembali ke sarang, adalah sebuah ajakan, agar kita tidak melupakan sarang hidup kita di bumi maya ini.
Apa itu sarang hidup? Sarang hidup adalah tempat hidup serta asal kita. Lebah pun bersarang. Semut serta jangkrik pun bersarang. Beruang serta serigala pun memiliki sarang. Sang manusia juga mempunyai sarang.
Rumah serta dapur adalah sarang hidup kita. Saya menyodorkan sebuah adagium Latin, “Bona culina, bona disciplina,” artinya, dari dapur yang baik itu datangnya kedisiplinan.
Gerakan atau pun aksi kembali ke rumah adalah suatu gerakan nurani, ada kesadaran untuk mengingat, mengenang, serta kembali ke asal hidup kita. Di sana, ada yang menunggu kita. Ayah Bunda, kakek dan nenek, serta adik dan kakak yang merindukan kepulangan serta kehadiran kita.
Sarang asal kita adalah rumah kediaman kita di bumi. Kelak, entah kapan, percayalah suatu saat, kita pun akan kembali juga ke sarang abadi, ke pangkuan kasih nan agung, Tuhan Sang Maha Kasih.
“Aku pergi, untuk menyediakan tempat bagimu, karena di rumah Bapa-Ku ada banyak tempat,” kata Tuhan, hampir 2000 tahun silam.
Kenyataan hadirnya, sebuah sarang hidup di atas bumi fana ini, merupakan tempat persiapan kita menuju sarang abadi di surga.
Saudaraku, bukankah, sarang hidup di bumi ini, hanyalah sekadar tempat numpang ngaso?
Lewat sebuah tulisan kecil ini, kita semua diajak untuk berefleksi, akan ‘arti rohani serta makna sejati’ dari hidup ini.
Berjalanlah terus, setelah Anda dan saya menjadi tamu di sarang hidup di bumi ini. Sungguh, secara naluri, sang ‘manusia itu adalah makhluk yang senantiasa pergi,’ demikian refleksi sang filsuf agung.
“Manusia, siapakah engkau, dari manakah engkau, dan hendak ke manakah engkau?
…
Kediri,ย 29ย Meiย 2023

