Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | “Magna est Veritas,” Kebenaran itu adalah sebuah keagungan. Apakah Anda pernah berkunjung ke kota abadi, Roma? Di sana, terdapat sebuah patung wajah dari marmer, “La Bocca Della Verita,” yang berarti “mulut kebenaran.”
Menurut sebuah legenda Romawi kuno, orang yang kita ragukan kebenarannya, dia akan dibawa ke tempat ini. Dengan disaksikan banyak orang, dia diminta untuk memasukan tangannya ke depan mulut kebenaran. Jika ternyata dia sungguh berbohong, maka mulut kebenaran itu akan menggigit tangannya hingga putus.
Bagi bangsa Romawi kuno, kebenaran itu adalah bagai sebutir mutiara berharga.
Ada tiga gerbang yang perlu dilalui demi menguji sang kebenaran itu. Gerbang pertama, “Benarkah itu?” Gerbang kedua, “Bergunakah itu?” Dan gerbang ketiga, “Baikkah itu?”
(Ex Latina Claritas)
Pius Pandor, CP
Saudara, kini tugas utama kita ialah mencari, memperdalam, mempertahankan, serta mewartakan kebenaran itu. Itulah mission sacre kita di zaman ini.
Sungguh nyata saudara, bahwa kita hidup di sini, di dalam suatu kelompok masyarakat yang sangat multi kultural ini.
Apa yang seharusnya perlu dijaga dan wajib kita pertahankan? Ataukah kita, justru terbuai, dan terseret oleh bujuk rayuan arus deras akar rumput di dalam masyarakat kita?
Tiang-tiang kebenaran serta seraut wajah keagungan, dapat saja menjadi semakin rumit, karena telah terbelenggu dan ditelikungi oleh tangan serta hati sang iblis laknat.
Kini, di ruang publik kita, nyata, bahwa kita hidup di dalam suatu masyarakat yang khaos dengan hiasan sebaran ucapan kebencian. Padahal, kebenaran itu pun suatu keutamaan politik yang wajib kita langgengkan di dalam arena publik yang sangat majemuk ini. “Kamu, akan menjadi saksi-Ku sampai ke ujung bumi.”
Maka, marilah saudara! Semoga, hati kita rela serta ikhlas, untuk membuka mata serta telinga demi tulus mempertahankan wajah sang kebenaran itu.
Sekali lagi, “Apakah kebenaran itu?”
…
Kediri, 28 Mei 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

