“A great personality is not born in the maternity ward. A great personality is born by the choices that one makes.”
Rio, scj.
…
| Red-Joss.com | Hari ini coba kamu buat eksperimen kecil. Ambil minuman bersoda dan satu botol air mineral. Eksperimen pertama coba kocok dan goncang minuman bersoda itu, lalu buka! Pasti muncrat, berbusa, dan tumpah ke luar. Seperti itulah reaksi. Eksperimen kedua, ambil botol mineral lakukan sama seperti minuman soda. Lalu buka dan pasti aman terkendali. Inilah gambaran respon.
Reasi atau tanggapan itu pilihan. Kita mau jadi seperti soda atau air botol mineral. Kebanyakan dari kita pasti ingin miliki sifat seperti air, meski di goncang dan dikocok tetap tenang. Kenyataannya, berkata lain dalam hidup ini.
Ketika dikritik, kita langsung bereaksi, diberi masukan tidak mau terima. Dievaluasi dan dikoreksi, kita jadi baper. Di-dislike langsung left atau block. Reaktif lagi, kalau para heaters menyerang. Marah, dendam, cenderung membalas itulah reaksi.
Sementara respon lebih tenang menghadapi semua riak-riak kehidupan itu. Dia sadar betul, bahwa tidak semua itu bisa dikendalikan. Yang bisa itu adalah mengendalikan responnya akan omongan, kemarahan, kritikan, fitnah dan hinaan para heaters.
“We have to learn how to respond.” Respon kamu lah yang menentukan kualitas dirimu. Ketika kamu bijak merespon setiap peritiwa, kejadian, pengalaman hidup, satu langkah kesuksesan dan kedewasaan telah kamu lalui. Not to react, but to respond, bukan reaksi tapi respon.
“Respond need strong personality.” Ia tidak bertanya ‘mengapa’, tapi ia akan bertanya ‘bagaimana’. Inilah ciri pemenang, ia tidak mencari kesalahan atau menyalahkan, tapi mencari peluang. Ia tidak banyak protes, tapi mau berproses.
“Respond need strong spirituality.” Ia tidak hanya bertanya, bagaimana? Tapi ia bertanya, apa yang Tuhan kehendaki? Orientasi bukan pada tataran manusiawi, tapi ilahi dan rohani. Ia mampu merubah dari ‘baper’ – bawa perasaan menjadi ‘baper’ – bawa permenungan.
Deo Gratias.
…
Edo/Rio, SCJ

