Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Setelah tahapan pendaftaran caleg ke KPU, maka semakin marak acara tebar pesona di hadapan calon pemilih. Ada profil foto dan biodata, selebaran visi misi, rekam jejak karya dan pendidikan, moto dan ajakan dari para caleg berhamburan; baik di media sosial, poster, dan baliho. Tebar pesona para caleg itu dilakukan sendiri maupun oleh para tim pemenangan, baik di kota maupun di kampung-kampung.
Untuk kepentingan menggalang suara dari pemilih, hampir semua momen digunakan, acara suka maupun duka. Acara sosial budaya, acara pribadi dan keluarga, juga kesempatan ritual keagamaan. Semua bertujuan menampilkan sosok caleg agar dikenal, diminati, dan diharapkan mendapat dukungan suara dari pemilih pada saat di TPS nanti. Semua caleg yakin pesonanya akan mendapat simpati, dan hanya satu kata yang menjadi energi, yakni MENANG.
Karena kata dan keyakinan menang tersebut, maka sering membuat seolah-olah โedan dan bodohโ, karena kursi jabatan yang terbatas itu diperebutkan oleh ratusan caleg. Satu kursi bisa diperebutkan oleh lebih dari dua puluh orang, termasuk legislatif yang sedang menduduki kursi saat ini. Maka, ongkos politik pun berhamburan demi membiayai semua upaya tebar pesona meraih kemenangan tersebut.
Dalam fakta, ada caleg yang tebar pesona dengan penuh perhitungan cerdas, ada yang ikut rame dan dikendalikan tim sukses, ada yang sudah nyaman dengan pengalamannya, karena sekarang sedang duduk di kursi legislatif. Sementara itu, para pemilih pun bervariatif modelnya. Zaman now, ada juga pengaruh kemudahan tekonolgi komunikasi digital, sebagai sebuah atmosfir baru dalam politik. Inilah dinamika politik zaman milenial, menuju pemilu 2024.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

