Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Ungkapan di atas, hai meluk ganu anjo, artinya “siapa yang suci seperti malaikat”, ada penggalan kalimatnya yakni bekang kepik ami gita artinya, “bentangkan sayap dan terbang – biar kami melihatnya.” Pernyataan ini di masyarakat Krowe, wilayah Kabupaten Sikka – Flores, sangat familiar hingga zaman ini. Biasanya digunakan sebagai ungkapan untuk menanggapi tudingan dari sesama, yang menjelekkan pribadi atau keluarga. Sikap membicarakan kekurangan orang lain, atau menjelekkan sesama demi kepentingan pribadi, dianggap sebuah tindakan tidak etis, karena semua manusia memiliki kelemahan, salah, keliru dan dosa.
Maksud yang sama, dari ungkapan “Hai meluk ganu Anjo, bekang kepik ami gita,” juga disimbolkan dengan makna menunjuk jari tangan. Jari tunjuk diarakan kepada yang lain, untuk mengadili atau menjelekkan orang, empat jari mengarah ke diri sendiri, dan jari tunjuk pun milik pelaku sendiri. Maksudnya, saat kita mengadili dan menjelekkan orang lain, hakikatnya adalah kita memberitahukan kekurangan dan aib pribadi, karena kita juga bukan malaikat. Kita juga punya kelemahan dan kekurangan sebagai manusia.
Saat ini, dengan adanya media sosial, karena kemajuan teknologi digital, kebiasaan membicarakan kekurangan sesama justru semakin marak, dan menjadi konten favorit. Ada semacam kebiasaan dan budaya baru untuk membisniskan kekurangan sesama, membuka aib sesama dan menciptakan hoaks untuk berbagai kepentingan bisnis dan politik.
Pada konteks ini, kemajuan teknologi, justru bukan saja memudahkan kehidupan manusia, namun banyak juga dampak negatifnya, seperti dekadensi moral, sikap egois dan hedonistik, juga kebiasaan menghalalkan segala cara demi tujuan pribadi dan kelompok.
Dalam bisnis dan politik, demi uang dan kekuasaan, sering terjadi para pihak saling menjelekkan dengan membuka aib pihak lawan. Bahkan sesama maling dan penjahat, saling menuding, karena berbeda kepentingan. Istilah yang biasa didengar, yakni “maling teriak maling.”
Mungkin juga soal kasus korupsi, hukum bisa tebang pilih, sesuai dengan kekuatan kekuasaan, lalu menghabiskan lawan politik denganย senjataย hukum.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

