Oleh Fr. M. Christoforus, BHK
“Untuk setiap detik yang diluangkan dalam bentuk kemarahan, maka satu menit kebahagiaan telah terbuang.”
(Anonim)
…
| Red-Joss.com | “Semburan emosi negatif berupa kemarahan.” Mencermati rangkaian statemen ini, dahi kita mungkin, akan segera mengernyit sedih.
Saya dan juga Anda, mungkin sering menyaksikan ‘semburan emosi negatif’ dari mulut seorang di dalam keluarga kita, misalnya.
Atau di dalam lembaga sekolah, di sebuah kantor, di perusahaan,
di asrama, dan di mana saja; selalu saja ada sosok yang sangat gampang untuk menyemburkan emosi negatifnya di depan umum.
Bagi sang pemarah tulen, apa pun yang tampak di depannya, adalah salah, buruk, serta bermasalah.
Semua realitas hidup ini, baginya adalah serba pekat mengelam.
Semburan emosi serba negatif yang terpancar deras dari mulutnya itu, adalah sebuah deskripsi dirinya tentang seluruh realitas ini.
Maka, baginya dia perlu selalu bersikap agresif serta menantang, dan itu adalah cara jitu sebagai senjata pembela diri.
Di dalam dada batin sang pemarah tulen, sebetulnya secara psikologis, dia telah kehilangan ‘dua butir mutiara kehidupan’ yang sangat berharga, yaitu :
(1) Rasa bersyukur
Sang pemarah tulen adalah orang yang paling miskin papa. Mengapa? Karena, sejatinya, dia telah kehilangan segalanya; bahkan rasa syukur pun telah sirna dari dada batinnya.
Dia telah rela memiskinkan dirinya dengan menghabiskan energi rahmat, dengan selalu mengeluh dan memprotes.
Inilah sederet litani pahit pedih yang selalu mengalir deras dari mulutnya. Makanan ini sudah basi, dan tidak enak. Bajuku ini selalu tampak lusuh. Suamiku, tidak ada perhatian padaku. Anaku, sangat kurang ajar kepadaku. Iparku, suka cemburu buta padaku. Pemerintah rezim ini bagai sarang penyamun.
Ketika gambar kehidupan ini tampak sudah serba minor, kapan dia akan bersujud syukur?
(2) Rasa ikhlas
Hidup tanpa ada rasa ‘ikhlas’ adalah sebuah siksaan batin. Bagaimana mungkin seorang bisa hidup sehat secara lahir batin, jika ternyata, seluruh tindakannya tidak ikhlas?
Keikhlasan itu bagai roh penguat, roh penyegar dahaga jiwa. Tanpa sikap ikhlas, hidup kita akan kian mengerdil, miskin, dan tandus.
Saudara, semoga di saat hidupmu dihadang aneka permasalahan, maka cerdaslah dalam bersikap.
Semoga pula, kita tidak kehabisan anggur penyemangat, berupa energi rasa syukur serta rasa ikhlas yang menyembur deras dari dada batin kita.
Saya sangat yakin, Anda akan sanggup mengubah paradigma hidup ini dari kegelapan menuju siang benderang.
Post Nubila Lux
Habis gelap terbit terang!
…
Kediri,ย 25ย Meiย 2023
…

