| Red-Joss.com | Setiap hari mungkin tidak selalu baik, ada saja masalah yang harus diselesaikan. Dari hal-hal kecil biasa yang dapat teratasi, sampai hal berat seperti halnya yang menyangkut “nama baik/harga diri”. Setiap orang sangat mungkin akan marah, jengkel, kecewa, dan semua teraduk, bertumpuk dalam satu gumpalan rasa yang mengguncang jiwa ini.
Karenanya kita butuh sahabat. Persahabatan itu ibarat tanaman. Agar tumbuh tak hanya berbunga namun juga berbuah, perlu dirawat. Disiram setiap pagi, dipupuk dan dijaga dari hama, yang nampak maupun yang tidak kelihatan.
Sama seperti banyak pagi sebelumnya, pukul 02.00 pagi ini saya bangun, untuk menikmati hari baru dengan tak henti bersyukur dan berterima kasih pada-Nya karena persahabatan yang tak berkerut oleh cuaca dan rentangan waktu.
Rentangan persahabatan memang berbeda namun satu dalam ikatan. Ada yang sudah serentang panjang usiaku, ada yang lebih pendek namun cukup lama, ada yang masih sangat baru, karena panggilan tugas.
Ragam keyakinan pun berbeda. Yang pasti tidak semua sahabat beragama Katolik. Sebagian Islam Kristen, ada juga Hindu, Budha, Konghucu. Semua terjalin dalam satu semangat persahabatan.
Profesi sahabat itu juga beraneka. Ada dokter atau nakes yang lain, ada Romo, Pendeta, Suster dan Bruder pun ada. Ada petani, pendidik pebisnis, nelayan, tukang service pompa dan tak sedikit Ibu rumah tangga biasa.
Ya Tuhan, berkatilah para sahabat, dengan kasih-Mu yang sempurna. Jika ada yang sedang memikul beban berat, ringankanlah! Atau berilah daya untuk sanggup memikulnya sampai akhir. Tambahkan sukacita dan damai-Mu yang kekal, ketika mereka sanggup memikul bebannya. Semoga mereka sehat dan bahagia.
Teguhkanlah kami yang tidak sempurna ini agar sanggup menjawab undangan-Mu menjadi tanda hadir-Mu bagi banyak orang, jika itu sesuai dengan kehendak-Mu. Amin
Relakan diri berbagi cahaya, niscaya akan bahagia.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

