| Red-Joss.com | Acapkali, sengaja atau tidak, kita merasa paling tahu dan benar di antara yang lain. Sehingga dengan mudah kita memberi label pada mereka yang berbeda dengan kita sebagai tidak paham, kurang update, atau bahkan salah dan harus tunduk pada pendapat kita. Dari situlah bermula salah satu penyebab keretakan di antara kita.
Menjadi benar itu penting, namun merasa benar itu tidak baik. Kearifan yang akan membuat seseorang menjadi benar, dan bukan merasa benar. Kearifan akan menuntun kita untuk berlabuh pada perubahan diri. Mari kita bertanya diri: ada di mana kita, benar atau merasa benar.
Kejadian 7 dan Ayub 1,1, memberikan gambaran tentang orang benar yang dapat dilihat dari peri hidupnya: saleh, rendah hati, tulus dan lembut hati, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan.
Orang benar, berlaku saleh dan rendah hati, setiap saat akan introspeksi diri. Tetapi orang yang merasa benar, merasa tidak perlu introspeksi. Karena merasa sudah benar, mereka cenderung jumawa atau tinggi hati.
Orang benar memiliki kelembutan dan ketulusan hati. Ia dapat menerima masukan dan kritikan dari siapa saja, sekalipun itu dari anak kecil. Orang yang merasa benar, hatinya keras, ia sulit menerima nasihat dan masukan apalagi kritikan.
Orang benar akan selalu berlaku arif dan penuh kehati-hatian, ia menjaga perkataan dan perilakunya dengan cermat. Orang yang merasa benar: berpikir, berkata, dan berbuat sekehendak hatinya, tanpa pertimbangan dan peduli pada perasaan orang lain.
Marilah melabuhkan buah permenungan ini ke arah hidup yang lebih benar.
Tetap terbuka untuk berbagi cahaya
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

