| Red-Joss.com | “Mungkinkah berbagi cahaya untuk mereka yang buta?”
Kebutaan ternyata merupakan sebuah hal yang relatif. Mungkin buta sendiri adalah istilah yang ada di kamus semata. Namun lebih daripada definisi buta, seseorang yang menyandang status tersebut, bukan berarti tak bisa melihat sama sekali.
Ada beberapa hal yang ternyata bisa ‘dilihat’ oleh orang buta. Bukan secara harafiah layaknya orang yang memiliki penglihatan yang baik, namun justru sesuatu yang lebih dari penglihatan.
Kita tentu sudah mengetahui jika tertawa itu menular. Benar, hal ini merupakan fenomena di mana seseorang bisa bereaksi kepada ekspresi wajah dan ini merupakan bentuk penularan emosional. Uniknya, hal ini juga dialami orang buta.
Hal ini sudah diuji coba oleh ilmuwan bernama Marco Tamietto, seorang periset di Tilburg University Belanda, di mana ia bereksperimen dengan dua orang tuna netra yang mengalami kebutaan karena kerusakan visual cortex (bagian di otak yang memproses informasi penglihatan).
Kepada mereka, Tamietto menunjukkan gambar subjek dari orang yang tersenyum atau mengerutkan dahi, dan kerusakan visual cortex sama sekali tak mematikan reaksinya terhadap gambar tersebut.
Jadi jika di jalan, ketika Anda berpapasan dengan orang buta dan tersenyum padanya kemudian ia tersenyum balik, itu bukan keanehan.
Artinya, tersenyum, sebagai salah satu wujud kebaikan hati, ingin dekat bersahabat, perhatian, dapat menembus semua keterbatasan badani. Yang ke luar dari hati akan sampai ke hati.
Kata-kata yang halus, hati yang tulus, dan apa adanya, akan dilihat oleh siapa pun, juga oleh mereka yang secara fisik terhalang oleh penglihatan. “Cahaya hati itu akan terlihat, oleh yang buta hatinya sekalipun.”
Tetap setia berbagi cahaya.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

