Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Sering didengar dan dialami dalam politik untuk mendapat jabatan eksekutif maupun legislatif melalui pemilihan adalah soal mau menang. Karena pertarungan politik dikondisikan dengan prinsip kalah menang, maka lahirlah segala cara untuk menang. Segala yang mungkin dipakai dan yang tidak mungkin pun diusahakan jadi mungkin, demi menang.
Ada aneka ragam cara dan strategi, jaringan dan tim pemenangan serta semua sarana dikemas demi satu tujuan, yakni menang. Maka bisa jadi aneka janji manis, kata-kata tipu muslihat, tindakan kriminal dan amoral, politik uang (money politics) dan kampanye hitam (black campaign) semuanya mungkin digunakan.
Soal segala cara demi tujuan menang ini, terkait dengan pengalaman politisi. Politisi senior dan yang pendatang baru pasti berbeda-beda, juga soal parpol yang menjadi asal bernaungnya politisi. Semua menjadi seperti ajang pertarungan bebas, maka yang kuat akan mengalahkan yang lemah. Kuat secara pengalaman, jaringan dan ongkos politik.
Pada pihak pemilik suara, minimal ada tiga kelompok pemilih. Pemilih tradisional, pemilih mengambang karena pemula atau pemahaman rendah, dan pemilih kritis atau cerdas. Terhadap segala cara dari politisi, masing-masing kelompok pemilih akan berbeda-beda kemampuan menghadapinya; baik dalam keterlibatan maupun sampai pada pertimbangan dan keputusan memilih. Sekali lagi, politisi berpengalaman jauh lebih cerdas menggunakan strategi serta segala alat dan cara terhadap masing-masing kelompok pemilih; bahkan individu pemilih. Induk parpol sangat mempengaruhi kemampuan politisinya dalam berkiprah untuk menang.
Dalam menerapkan cara dan strategi untuk menang, politisi pun pandai mendekati pemimpin lembaga sosial, adat budaya dan agama, kelompok profesi, jaringan kerja serta relasi kekerabatan dan personal. Dengan fakta tersebut, banyak tokoh agama dan adat budaya sering tak berdaya menghadapi para politisi. Khusus yang di kampung dan komunitas adat budaya sering kebingungan, ketika politisi yang datang adalah anggota keluarga atau kerabat dekat secara adat budaya dan agama.
Belum lagi kalau tersebar kampanye hitam pada saat terakhir menjelang hari pemilihan. Suasana sosial budaya menjadi tidak menentu, bahkan terjadi konflik sosial antar pendukung, yang bisa berkepanjangan hingga setelah hajatan politik. Demi kemenangan menjadi sumbernya, dan demi kepentingan menjadi dasarnya. Tujuan menghalalkan semua cara, termasuk kampanye hitam dan politik uang. Maka, kecerdasan rakyat pemilih menjadi andalan dan keharusan.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

