Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Tidak ada jabatan gratis, termasuk dalam politik. Maka untuk jabatan politik pun pasti ada ongkos politik, baik kursi jabatan legislatif maupun eksekutif. Bagi para politisi, soal ongkos adalah hal yang biasa, karena mereka sudah paham. Namun, bagi individu yang baru terlibat, ongkos politik bisa menjadi beban dan kendala.
Ongkos politik bagi mereka yang baru menjadi caleg, biasanya ada beban psikologis tersendiri. Khususnya yang belum paham politik dan ikut, karena diajak pemain politik lama, dengan aneka iming-iming. Maka, setelah nama terdaftar di KPU, yang terjadi adalah soal gengsi karena sudah terdaftar. Desakan dari parpol, juga rekan caleg atau pemain politik lama akan sangat berpengaruh.
Maka, segala cara akan diupayakan, agar bisa memiliki dana untuk ongkos politik. Ongkos untuk mengejar suara dengan keyakinan akan menang, sehingga segala cara ditempuh dengan dana yang ada. Bahkan dengan utang pun jadilah, demi memiliki ongkos politik, karena yakin akan menang.
Dari pengalaman pada beberapa pemilu yang lalu, ada sangat banyak politisi pemula yang mengeluh soal ongkos politik, dan nyatanya kalah dalam persaingan. Lalu menjadi beban ekonomi berkepanjangan, karena kalah dan berutang untuk ongkos politik. Ada banyak rentetan akibat bagi individu dan keluarganya serta relasi sosial budaya lainnya.
Salah satu sumber penyebab, bahwa yang mau terlibat dalam politik praktis ternyata kapasitas pengetahuan politik berbeda-beda, juga kemampuan ekonominya. Namun, pengalaman itu tidak menjadi halangan bagi yang bersangkutan, serta politisi lain untuk kembali tampil dalam pemilu 2024. Rupaya menarik dan menjanjikan soal jabatan politik, meski pun peluangnya kecil dan menguras banyak ongkos politik. Politik adalah seni kemungkinan, dan pasti selalu ada ongkos politiknya.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

