Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Pandanglah seluruh realitas hidup ini dengan setulus hatimu.”
(Anonim)
…
| Red-Joss.com | Ada sebuah seruan kebijaksanaan dari gurun, “Pandanglah seluruh realitas hidup ini dengan setulus hatimu.”
Ini adalah sebuah statemen bijaksana yang bertujuan agar sang manusia itu sudi memandang sesuatu, apa pun itu, dengan benar dan utuh. Tidak berkamuflase, atau bahkan mau mengecilkan makna dari sesuatu yang dipandang.
Hal ini bermaknakan, katakan sesuatu itu dengan baik, benar, jujur, dan transparan.
“Jangan memandang sebelah mata,” (don’t look in the eye), bermaknakan, “Jangan merendahkan, menyepelekan, jangan menganggap sesuatu itu tidak berharga, atau bahkan dianggap tidak ada.โ
Idiomatik atau ungkapan ini, merupakan sebuah ajakan agar kita, sang manusia arif ini, jangan sekali-kali memandang rendah kepada sesama.
Kini kita hidup di zaman yang serba mengglobal, yang kian terkuak lebar. Planet bumi kita seolah kian mengecil, menyempit dengan hadirnya sarana teknologi mutahir.
Seolah tidak ada lagi, Utara dan Selatan, Timur pun Barat, semua sudah kian menyatu.
Di sisi lain, ternyata kemajuan ini, justru telah menjerumuskan sang manusia itu ke lembah keangkuhan, lupa diri, atau bahkan tidak tahu diri. Akibatnya, kita manusia, seolah hidup di zaman penuh kepalsuan, dengan lidah beracun terulur, zaman hoaks.
Kondisi khaostis atau kegelapan ini, justru lahir dari sikap egois sang manusia, yang kian bersikap masa bodoh alias tidak mau tahu terhadap sesamanya.
Martabat serta derajat kemanusiaan kita, pun tampak kian merosot. Ada degradasi nilai-nilai agung kemanusiaan kita.
Hal ini, sekaligus dapat bermakna, kita telah kehilangan kesejatian serta jati diri kita sebagai sang ciptaan terluhur.
Tuhan, Sang Maha Kasih itu, justru telah rela mengangkat harkat serta derajat kemanusiaan kita, dari berstatus hamba, karena kedosaan kita; dan mengubahnya menjadi sahabat.
“Jadi, mengapa Anda dan saya, justru masih memandang sesama dengan sebelah mata?”
…
Kediri, 20 Mei 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

