Oleh Simply da Flores
| Red-Jos.com | Mayoritas penduduk dan pemilih dalam pemilu 2024 bertempat tinggal di kampung. Konteks kehidupan dan kapasitas individu maupun komunitas beraneka ragam sesuai fakta di seluruh pelosok negeri NKRI. Para caleg khususnya, setelah parpol mendaftar di KPU – KPUD, maka suhu politik semakin memanas. Pasalnya, sekian banyak caleg dari tingkat kabupaten/kota hingga pusat, mulai menyerbu masuk ke luar kota dan kampung untuk menggalang suara supaya menang.
Aneka strategi, sarana informasi, cara pendekatan dan tim kerja pemenangan digunakan. Semua digerakan oleh energi tujuan utama, yaitu meraih kememangan. Kemenangan untuk mendapat posisi jabatan politik, sehingga kepentingan pribadi dan kelompok bisa didapatkan. Lagu lama dan selalu baru dinyanyikan, yakni kepentingan jabatan takhta, harta dan gengsi. Maka biasanya ada banyak janji dan juga politik uang. Sedangkan untuk mengalahkan lawan politik, maka sering terjadi kampanye hitam dan cara licik lainnya.
Karena banyaknya parpol peserta pemilu, maka khusus untuk menjadi caleg di kabupaten/kota, banyak parpol kesulitan merekrut caleg. Ada fakta lain, bahwa banyak caleg lokal umumnya ada hubungan keluarga serta sanak kerabat secara adat budaya dan sosial. Fakta itu menjadi persoalan bagi para caleg, juga bagi masyarakat pemilih di kampung. Soalnya, relasi kekerabatan itu masih menjadi konteksk tradisi sosial budaya. Inilah salah satu sebab memanasnya situasi di komunitas kampung.
Sistem pemilu mengkondisikan, bahwa para caleg dalam satu parpol pun berkompetisi untuk dapat suara terbanyak, sekaligus berkompetisi dengan caleg dari parpol lain di daerah pemilihan yang sama. Kursi legislatif yang terbatas diperebutkan oleh sekian ratus orang. Semuanya ingin menang, termasuk legislatif yang sedang menjabat sekarang pun ikut memperebutkan lagi kursi jabatan itu. Suhu politik terus memanas menuju pemilu 2024.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

