| Red-Joss.com | Kita sering mendengar di awal sambutan, bahkan oleh orang Kristen, menyebut Allah subhanahu wa ta’ala, yang artinya Allah Maha Memelihara seluruh makhluk. Secara sangat khas disebut dalam Yesaya bab 49:15. “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.”
Bagi kita, orang Katolik, itu adalah kepastian (iman), bahwa Allah memelihara kita sepanjang hidup ini, karena itu kita boleh merasa aman.
Namun demikian, ‘never take it for granted’. Bahasa Jawanya nggampangake nglirwakake, ngrèmèhake;
Kata Take for Granted secara umum berarti tidak menghargai dan mensyukuri keberadaan seseorang atau sesuatu. Kata itu digunakan sebagai nasihat. Take for Granted disampaikan agar kita lebih dapat menghargai hal-hal yang ada di sekitar kita, sekaligus untuk mengingatkan kita agar lebih mensyukuri hal-hal tersebut dan tidak menyesal nantinya.
Contoh: Never take every little things for granted, such as how you are still breathing today & live a healthy life. All of those things are blessings that you must thank for. (Hargai semua hal-hal kecil dalam hidup ini, seperti bagaimana kita masih bisa bernafas dan hidup dengan sehat. Semua itu anugerah yang harus kita syukuri).
Sikap take for granted sering juga ditampakkan dalam sikap enggan dan sak-sake dalam komunitas iman kita, mis lingkungan. Enggan datang, & kalaupun datang ‘pas-pasan’ artinya: sharing pas, doa pas dan membaca Firman pun keliru.
Kok salah melulu sih… Bukan demikian, kita harus menjadi lebih baik setiap saat, never take for granted, sebab kalau hidup keagamaan kita tidak lebih baik dari ahli-ahli Taurat, apa lebihnya?
Tetap menjaga pelita agar tetap bernyala.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

