Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Bisa dibayangkan banyak orang datang ke sini dan berharap memakai kembali sepatunya setelah mandi. Tetapi, mereka tidak pernah kembali.”
(Elzbiete Cajzer)
…
| Red-Joss.com | Tulisan ini diangkat sebagai sebuah ‘refleksi hitam kita tentang kemanusiaan,’ lewat sebuah potret buram, kejamnya tentara Nazi, Jerman, pimpinan Adolf Hitler.
Saya mau menuliskan kembali sepenggal kisah hitam ini, berdasarkan berita harian Kompas, Selasa, (16/5/2023), di kolom Internasional.
Hati saya tergerak serta terdorong untuk membagikan kepada para pembaca, bahwa ternyata, kita manusia dina papa ini, suatu saat dan dalam kondisi tertentu, dapat menjadi sungguh dungu laksana seekor binatang.
Tindakan sangat keji yang turut menghitamkan wajah bumi dari segi kemanusiaan semesta ini, memang pernah ada.
Tanggal 27 Januari 1945 saat tentara Soviet memasuki kamp konsentrasi ini, yang ditinggalkan tentara Nazi, Jerman karena melarikan diri. Kamp konsentrasi ini terletak di kota Oswiecim, Polandia.
Kamp ini dibangun Nazi Jerman pada tahun 1939.
Di sana, tentara Soviet menemukan sekitar 7000 orang tahanan dalam kondisi mengenaskan, kurus kering dan 500 orang di antaranya adalah anak-anak. Korban keseluruhan, diperkirakan antara 1 – 1.5 juta orang.
Sepatu-sepatu bisu, yang sudah tidak utuh lagi. Ada yang tanpa tali, ada yang tersisa sebelahnya, dan ada yang hilang warnanya. Inilah saksi bisu simbol kebiadaban Hitler dan Nazi.
Saudara, di balik itu, inilah kebiadaban kita, selaku sang manusia.
Ketika para tahanan dilucuti pakaiannya dan diperintahkan untuk mandi, ternyata mereka tidak pernah kembali hingga hari ini.
Kamp konsentrasi ini dibangun atas kebijakan rasis, kegelapan dalam sejarah, serta dampak mengerikan dari ideologi ekstrem serta penolakan martabat manusia.
Saudaraku, ikhlaskah nurani kita yang hidup di zaman keterbukaan ini, jika ternyata ada rezim yang sudi bermain api dengan kekejaman serupa ini?
Maka, marilah kita, sehati sejiwa, menumbuhkan naluri kemanusiaan kita untuk turut membangun dengan mencintai kemanusiaan semesta. Kita wajib mendobrak paham-paham anti kemanusiaan, paham anti toleransi, serta paham-paham ekstrem yang memosisikan dirinya seperti Tuhan.
Semoga sepatu-sepatu yang membisu ini, sudi membangunkan kita dari tidur panjang yang cenderung bertindak anarkis serta anti kemanusiaan.
…
Kediri,ย 17ย Meiย 2023

