Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Kematian itu pasti, tapi waktunya dan caranya khas bagi setiap orang sesuai dengan kebijakan Sang Pemilik ajal. Memang, ada yang memaksakan kematian dengan membunuh diri.
Hemat saya, fakta kematian adalah saudara kembar dari kehidupan, bahkan energi hakiki untuk kehidupan. Ini soal cara pandang dalam agama, tradisi adat budaya dan hasil refleksi pribadi setiap orang. Saya catat refleksi ini dalam sajak:
Hamparan Bintang di Pekuburan
Ketika ajal menjemput
Raga dipeluk debu tanah
kisah asal mula tercipta
Jiwa kembali ke mentari
meraih Sang Cahaya Ilahi
Dan
semua yang masih hidup
daraskan ritual doa cinta
di atas nisan di pekuburan
diiringi duka derai air mata
“Hari ini engkau,
Besok nanti giliranku
Entah apa caranya
Entah kapan waktunya
Tetapi
aku pasti menyusul”
Kematian selalu menakutkan
karena aneka kisah cerita
dan sering dihindari datang ajal
Karena
sejuta alasan dan kepentingan
yang masih ingin diraih
“Aku ingin hidup 1000 tahun lagi
Aku mau tetap di bumi”
Padahal
kehadiran diri tak diminta
kehidupan terjadi dan ada
kematian pasti dan kodrati
Sebuah fakta penuh misteri
dalam kehendak Sang Ilahi
Silih berganti abadi lestari
Hadir menguburkan sesama saudara
satu langkah menuju kematian
Berziarah kunjungi pusara
satu ritual meruwat pribadi
Berdoa di makam para pendahulu
siapkan jalan ajal pribadi
dan letakkan sinar sebuah bintang
di pelataran makna pekuburan
Yang hidup dan yang mati
tetap sesama saudara kodrati
lahir hidup mati terjadi
Dalam semesta Misteri Ilahi
Tanya dari segala tanya
pada fakta ada dan terjadi
Hamparan bintang di pekuburan
Terang di atas setiap malam
Sinar di atas setiap nisan
Adalah ikatan relasi kodrati
antara yang hidup dan mati
antara fakta dan harapan
antara tanya dan jawaban
dalam doa penuh kepasrahan
dalam rindu penuh harapan
dalam yang tak berkesudahan
Segenap manusia di ruang semesta
digerakkan energi Sang Pencipta
Sang Alfa dan Omega
Sang Cahaya Maha Daya
…
Foto ilustrasi: Istimewa

