Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, tiada sungai dapat menghanyutkannya. Sekali pun orang memberi segala harta bendanya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.”
(Kid. 8 : 7)
…
| Red-Joss.com | Saya mengangkat dalam tulisan ini, sebuah “kisah cinta” paling interisan dari negeri tirai bambu, China.
Cinta, ya, tentang cinta lagi. ‘Hidup tanpa cinta, bagai kuah asam tanpa bergaram’, demikian sebuah ungkapan.
Kisah cinta klasik antara janda beranak, Xu, yang lebih tua dan Liu, pria yang lebih muda. Sungguh, mengharukan.
Cinta mereka ditolak oleh keluarganya, juga menjadi cemoohan para tetangga, karena dianggap tidak lazim di dalam tradisi mereka.
Apa daya, akal sehat pun bertindak. Keduanya, akhirnya bersepakat nekad melarikan diri dan tinggal di hutan, di dalam gua batu, di desa Jing Jin.
Hidup mereka dimulai dari titik nol. Ketiadaan dan kemiskinan telah menghantui mereka. Namun, cinta sejati nan tulus, mampu membakar jiwa tulus mereka untuk tetap dan terus berjuang.
Di dalam kekalutan itu, bertanyalah sang istri, Xu kepada sang suami, “Apakah engkau menyesal?”
“Selama kita rajin dan tulus, kehidupan ini akan menjadi lebih baik,” jawab Liu.
Suatu hari dan bahkan berhari-hari berikutnya, sang suami, Liu mulai memahat anak tangga, agar istrinya dapat turun gunung dengan lebih mudah. Karya ini berlangsung selama lima puluh tahun.
Setengah abad kemudian, tepatnya pada tahun 2001, saat sekelompok pengembara mengeksplorasi hutan itu, betapa mereka tercengang. Mengapa?
Di sana, di gua batu itu, mereka menemukan sepasang suami istri tua serta enam ribu anak tangga pahatan Liu. (Kornelis Sabat, Chinese Inspiratif Story).
Saudara, ada banyak ekspresi cinta di bumi ini. Ada banyak kado cinta dalam aneka bentuk. Ada kado batu permata, kalung berlian, cincin bermata biru berkilau. Bahkan, sebuah kapal pesiar nan manis.
Sering, masyarakat kita memaknakan tindakan cinta itu, dengan ‘gila atau kurang waras.’
Ya, julukan itu benar juga. Kata orang, saat orang sungguh saling mencintai, kadar kewarasannya pun menurun drastis seirama meningkatnya kadar gairah cinta? Bukankah, cinta itu memang buta?
Cintamu yang sungguh dibaktikan, akan mampu melahirkan aneka kreativitas. Di balik itu, akan melahirkan pula aneka karya agung. Karya-karya itu, justru dipersembahkan kepada pihak-pihak yang dicintai atas nama sang cinta.
Ah, saudaraku, memang sungguh dasyat cinta itu!
Saudara, lewat kisah manis ini, semoga kita pun teringat akan kisah cinta klasik Romeo dan Juliet. Atau pun pada kisah cinta dari negeri kita, Prono Citro dan Roro Mendut.
Cinta nan agung, akan meninggalkan jejak-jejak kaki kesejatiannya di dalam kehidupan ini. Jejak-jejak abadi tak terhapus itu, akan tertanam mesra di dalam sanubari sang manusia.
Seperti ekspresi, refleksi dari santa Theresa, Bunda fakir miskin India, “Sang cinta sejati, akan mekar serta mengitari kehidupan kita, laksana sekeping mentari.”
…
Kediri, 15 Mei 2023

