RedJoss.com – Ibarat kumbang, begitulah hidup para petualang. Menclok dari kembang ke kembang yang lain. Tiada puasnya, tiada habisnya.
Kenyataannya kumbang dan petualang itu berbeda. Jangan pernah disamakan. Diibaratkan sama, juga tidak tepat.
Lihat itu petualang politik, cinta, atau petualang ben diarani. Adakah mereka puas? Lalu, apa sesungguhnya yang dicari dalam hidupnya?
Mereka tidak tahu, dan mungkin juga tidak mau tahu dengan tujuan hidupnya.
Petualang politik itu selalu menclok ke partai manapun yang penting menguntungkan dan aman.
Petualang cinta itu pengin memacari banyak gadis cantik, apalagi sukses menggaet gadis yang tajir melintir, bangganya nguadibilah.
Begitu pula dengan petualang ben diarani. Ia jeli memanfaatkan peluang untuk kepentingan sendiri. Ia berasa hebat dan benar sendiri. Ketika ia tidak mampu lagi memperoleh keuntungan, ia segera pergi untuk menclok ke orang lain yang lebih menguntungan. Dan begitulah seterusnya.
Berbeda dengan kumbang. Kendati menghisap madu pada kembang, tapi ia membantu penyerbukan untuk menghasilkan buah.
Habis manis sepah dibuang itu slogan para petualang yang tidak bertanggung jawab.
Bagi para korban petualangan, jangan berkecil hati, putus asa, dan mendendam. Lebih baik itu jika mengambil hikmah agar kita tetap tegak berdiri.
Kita bersyukur, karena tidak hancur.
Kita juga mampu melihat kualitas pribadi petualang itu. Kasih Allah memberi kita hikmah.
Meski bagi para petualang itu kita adalah sepah yang dibuang, tapi mereka tidak menyadari, sepah itu dapat kita olah untuk menjadi pupuk.
Pupuk yang menyuburkan jiwa kita dan menghasilkan buah kebaikan bagi sesama. (MR)
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

