| Red-Joss.com | Tidak cukup doa dan terus berdoa, mohon dan terus memohon. Tapi doa yang benar itu, jika diwujudkan dalam tindakan agar mukjizat itu jadi nyata.
Selalu menyertakan Allah dalam pikiran, perilaku, dan tindakan itu yang membuat hati saya jadi tenang, tentram, dan optimistis untuk menapaki hidup ini dengan harapan yang pasti.
Sesungguhnya, saya sendiri tidak habis pikir dan mengerti, kenapa saya mau dan mampu melakukan pekerjaan kasar itu. Padahal, hasilnya tidak besar, bahkan amat minim.
Coba, bagaimana tidak bekerja berat. Tahun 1998 saya belajar wirausaha sebagai pengecer plastik kemasan yang saya peroleh dari toko seorang teman di pasar Kebayoran Lama, Jakarta. Saya naik mikrolet ke Ciputat, disambung ke Pamulang, lalu naik ojek lagi ke rumah di Bambu Apus. 3 kali ganti kendaraan.
Setiap belanja, saya membeli 2 bal plastik (50 kg) yang isinya banyak ukuran sesuai pesanan pelanggan. Hari Sabtu libur kerja, saya gunakan untuk survei mencari pelanggan, Minggu pagi belanja, lalu plastik itu langsung distribusikan ke pemesan.
Jika saya mengambil untung perkilo Rp 1.000,- berarti untung bersih Rp 50.000,- dikurangi biaya transpor PP 6 kali naik kendaraan. Itu pun pembayaran pelanggan dengan tukar bon alias dihutang.
Sesungguhnya, saya juga tidak tahu, kenapa saya ikhlas merintis usaha yang berat itu. Apakah semua itu demi keluarga dan masa depan anak?
Saya tidak berani berpikir terlalu muluk atau hebat. Saya melakukan hal itu, karena tuntutan tanggung jawab dan cinta keluarga. Saya juga mohon penyertaan Allah, “Jika Engkau mau ya, Allah, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.”
Dengan berdoa, hati ini diteguhkan, sabar, dan ikhlas. Sesungguhnya, jika apa pun yang dilakukan dengan cinta yang besar dan ikhlas hati, hasilnya luar biasa.
Hal itu saya rasakan dan syukuri sebagai anugerah Allah yang dahsyat. Terutama sejak keluarga saya diminta Bapak mertua pindah, menempati rumah di Ciledug, rezeki usaha itu mengalir deras.
Saya merasakan campur tangan Allah, karena dari 8 pintu penjuru dunia itu rezeki seperti dibukakan, membuat usaha sampingan saya maju dan berkembang.
Padahal, di sela kesibukan bekerja, usaha sampingan plastik, dan mengurus keluarga itu saya diminta teman untuk membantu mengelola majalah gereja “Sumber”.
“Jika Engkau berkenan, ya, Allah, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.”
Doa itu selalu saya lafalkan setiap saat untuk menafasi hidup ini. Tujuannya adalah, sesibuk apa pun agar saya tidak mudah mengeluh, sambat, ngambek, atau menyerah.
Saya sungguh sesungguhnya menyadari dan memahami. Bahwa pekerjaan apa pun yang didasari oleh kasih dan ikhlas hati itu selalu membawa sukacita dan bahagia. Ikhlas itu hilangkan rasa lelah. Hasil capaian dari kerja keras itu juga luar biasa, karena Allah yang menyempurnakannya.
“Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)
Firman Allah itu mewujud nyata, karena keluarga saya dilimpahi-Nya kesehatan, damai sejahtera, dan bahagia.
…
Mas Redjo

