Ole: Fr. M. Christoforus, BHK
Pada ujung lidah sang guru bergantung seluruh masa depan sang murid.
Jika guru bertutur benar, sang murid menerima kebenaran. Jika guru bertutur salah, sang murid memikul kesalahan.
Gurulah Ibu sang kehidupan
dan murid ranum itu buah rahimnya.
(Fr. M. Christoforus, BHK)
…
| Red-Joss.com | Peran mulia guru itu dapat disejajarkan dengan peran sang Nabi. Mengapa? Karena bukankah, sang guru pun berperan mewartakan kebenaran?
Guru, sosok yang patut digugu dan ditiru. Bahkan, ada budaya yang memandang peran sang guru tidak sekadar sebagai suluh atau obor penerang kehidupan. Namun, bahkan sebagai matahari yang menerangi jagat mikro sang murid.
Saudara, menilik pada penggalan puisi serta makna filosofis peran sang guru yang tertera di atas, maka dapat dikonklusikan, bahwa betapa sentral serta sungguh penting dan menentukan peran agung sang guru.
Dialah, sahabat idaman, tokoh idola para muridnya. Saya dan Anda pun dapat merenungkan, betapa strategisnya peran kenabian dari sang guru sejati.
Bahkan saudara, sudah dideskripsikan dengan sangat puitis, bahwa pada ujung lidahnya, bergantung seluruh masa depan sang murid. Hal ini bermakna, bahwa aspek kesejatian di dalam diri personal sang guru itu, mutlak diperlukan.
Jadi, betapa hancur serta berantakan dunia serta tata kehidupan ini, jika murid, anak-anak kita dididik oleh guru yang tidak berkarakter. Artinya, guru yang tidak berkepribadian, pun tidak berintegritas.
Dalam konteks konkret ini, peran sentral sang guru, sangat dan mutlak kita dambakan.
Gurulah sosok yang dapat digugu dan ditiru. Jadi, seluruh gerak hidupnya akan menjadi panutan sang murid. Hal ini dapat bermakna, hendaklah tidak terdapat kepalsuan di dalam diri sang guru.
Untuk itu, sang guru pun wajib untuk berkata serta bertindak serba baik dan benar. Di dalam konteks ini, sosok guru selaku peneladan dan panutan, akan menjadi kian sentral.
Lihatlah pada potret buram, nasib tragis yang dialami bangsa, yang dicap sebagai ‘bangsa perampok.’ Atau pada nasib bangsa, yang digelari sebagai bangsa santai dengan ‘jam karet’ tersemat di dadanya. Atau juga, pada lontaran ejekan sinis ironis, ‘para tikus pengerat rupiah’ yang kian menggurita di negeri ini.
Bahkan pernah, ada para elite politik yang sangat berani berslogan, “Katakan tidak, pada korupsi!” Eh ternyata, justru di sanalah sarang para penyamun itu.
Sebuah pertanyaan kritis retoris, “Dari manakah datangnya para perampok berdasi serta tikus pengerat itu. Bukankah dulu, mereka pun pernah mengenyam pendidikan sejak TK hingga ke PT?
Mengingat betapa vital serta strategisnya peran hebat sang guru, maka bangsa kita pun tulus berkias, “Jika sang guru kencing sambil berdiri, maka sang murid pun akan kecing sambil berlari.”
Wahai, saudara guru, kami mengagumimu, sambil dengan tulus menggantungkan sejuta harapan ini di dadamu!”
…
Kediri,ย 11ย Meiย 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

