| Red-Joss.com | Dasar permenungan pagi ini adalah tangkapan mata kita, bahwa hidup ini adakala seperti melangkah di titian rapuh yang dapat jatuh sekali angin menyentuh.
Mother Teresa itu adalah sosok yang hidupnya sangat berpusat pada doa dan cinta keheningan.
Lantas saya berandai-andai,
Andaikan Bunda Theresa itu orang Jawa, filosofi yang dianut sepertinya “Ora Kagetan” dan “Ora Gumunan.“
Saya mencari ketenangan, kehidupan yang damai, banyak teman, tak takut kehilangan. Itu sangat berpengaruh bagi kehidupan saya sehari-hari. Itu yang menjadikan suasana tenang, kehidupan batin juga teduh. Saya membiarkan kehidupan lahiriah saya dituntun oleh hidup batin (rohani), maka tidak usah dibuat-buat, apa adanya.
“The fruit of silence is Ojo Kagetan – Ojo Gumunan.“ Tidak mudah terpesona oleh tampak lahir. Apa yang dipandang mata belum tentu kebenarannya.
Orang hidup kadang seperti melangkah di titian rapuh yang dapat jatuh sekali angin menyentuh.
Kita mengira A, ternyata realitasnya Z. Kita melangkah menuju X, ternyata berujung di S. Kita berencana F, ternyata jadinya V.
Siapa tahu dalamnya hati orang? Hanya Tuhan dan dirinya sendiri.
Kamu? Saya? Kita? Kan hanya mengetahui tampilan luar. Apa yang terlihat dari luar belum tentu cerminan keadaan yang sesungguhnya. Tapi tak perlu juga sampai merasa tertipu penglihatan, karena yang sebenar-benarnya adalah: di atas langit ada langit.
Di atas sana, ada satu kekuatan sempurna yang tak tergoyah oleh apa pun. Tempat segala gelisah ini berlabuh. Mendamba damai sejati yang tak akan pernah ditawarkan oleh dunia, tapi hanya dari intimitas relasi dengan Yang Maha Suci. Melalui keheningan hati.
Ora gumunan dan Ora kagetan
Tetap teguh membawa keteduhan dengan berbagi cahaya.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

