Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Saat kecil, teringat pasar sesuai nama hari dan berpindah tempat. Ada pasar Senen, Pasar Selasa dan seterusnya. Nama pasar sesuai hari itu pun menjadi nama lokasi di mana pasar berlangsung. Ternyata tidak saja di daerahku, tetapi ada di Jakarta dan di Jawa. Nama pasar itu menjadi nama daerah atau tempat itu. Maka dikenal di Jakarta ada pasar Senen, pasar Minggu, pasar Rebo, pasar Kamis. Kata temanku, di Jawa ada pasar Kliwon, pasar Legi, dll
Aktivitas pasar dahulu diwarnai sistem barter dan juga uang. Sekarang, zaman digital ada pasar online dan uangnya juga elektrik atau digital, hanya angka berpindah, karena dimungkinkan oleh sistem perbankan online. Setelah dibayar online, barang dan jasa diantar ke tempat pembeli.
Beberapa tahun terakhir ini, ketika saya berada di kampung, ada pasar berjalan lintas kampung. Dengan sepeda motor dan mobil, aneka jualan melintas antar kampung, bahkan dari rumah ke rumah. Para ibu dan anak-anak sudah kenal tandanya dan waktunya. Kapan ada jualan sayur dan aneka kebutuhan dapur, kapan pakaian dan mainan, juga kapan ada ikan tahu tempe. Ada juga kendaraan untuk membeli hasil bumi dan barang bekas lintas kampung dan dari rumah ke rumah.
Perubahan ini dimungkinkan oleh sarana transportasi, sistem perbankan dan aneka informasi zaman now. Lalu, model pasar berjalan pun ikut mengubah cara berpikir dan perilaku masyarakat di kampung-kampung. Tidak saja pasar barang dan jasa, tetapi juga pasar uang dengan tawaran kredit dari koperasi, bank dan rentenir pun masuk ke luar kampung serta menyerbu pribadi dan keluarga. Fakta aneka model pasar barang, jasa dan uang ini menjadi budaya baru bagi kampung. Selain menjadi kemudahan, namun bisa menjadi bencana ketika kemampuan memutuskan serta mengelola uang tidak memadai.
Ada banyak kejadian, tawaran uang kredit yang diambil masyarakat, ketika hanya untuk konsumsi, maka terjadi kredit macet dan lahirlah rentetan masalah, bahkan sampai ke pihak penegak hukum dilibatkan. Ada indikasi bahwa pasar berjalan sudah masuk kampung, namun kemampuan produksi masyarakat kampung masih terbatas. Sama juga dengan kemampuan mengelola uang untuk usaha ekonomi kreatif. Maka sangat perlu banyak upaya untukย pemberdayaan.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

