RedJoss.com – “Cinta itu buta,” pameo ini dianggap suatu kebenaran yang tidak bisa dibantah, didebat, apalagi untuk diganggu gugat.
Buktinya, ketika pacaran kita tidak berani menunjukkan wajah aslinya. Kita cenderung membungkus isi dengan kemasan agar menarik perhatian dan dikagumi.
Jika ada yang berani terbuka, terus terang, dan jujur itupun dapat dihitung dengan jari.
Padahal sadar diri dan bersikap jujur itu lebih baik, ketimbang kita mengenakan topeng, kamuflase yang bakal mempermalukan kita di kemudian hari.
Berani bersikap jujur, berarti kita mengakui realita, kebenaran, dan hal itu tidak bakal melukai hati.
Jujur itu nafas hidup kita untuk membangun kepercayaan berumah tangga. Kita dituntut untuk berani bersikap terbuka, terus terang, dan jujur.
Menikah alias hidup berumah tangga itu tidak sebatas menyatukan dua hati, tapi, juga dua keluarga dengan segala persoalannya.
Jangan pernah ada anggapan keliru, “Keluargaku adalah keluargamu, tapi keluargamu adalah keluargamu sendiri.”
Pikiran buruk yang harus dibuang jauh. Sifat egois yang harus disingkirkan agar hati kita tidak kotor dan merusak hubungan baik.
Ketika kita memutuskan untuk menikah, konsekuensinya adalah kita harus berani menerima pasangan kita apa adanya. Dengan segala kekurangan, kelebihan, dan termasuk persoalan keluarga dari kedua belah pihak.
Kita juga tidak mungkin mampu menutup mata, ketika pihak dari pasangan kita terbelit masalah keuangan, sakit, dan sebagainya. Mereka membutuhkan pertolongan dengan segera, padahal kita cukup berada, yang diharapkan dan diandalkan.
Dengan bersikap tidak peduli dan masa bodoh pada keluarga pasangan, berarti kita melukai hati pasangan kita dan menyakitinya.
Jika hal itu dibiarkan, lama kelamaan bakal menjadi bumerang bagi hubungan baik kita dengan pasangan maupun keluarganya.
Jangan punya anggapan, dibantu sekali dua akhirnya menjadi kebiasaan dan ketergantungan juga.
Lebih bijak, jika kita bicara dari hati ke hati. Terbuka, terus terang, jujur, belajar untuk saling memahami, dan mencari solusi.
Masalah yang dimusyawarahkan dengan kejernihan hati, dijamin bakal mencapai mufakat, dan hal itu adalah keputusan yang terbaik.
Kita bakal mampu menyatukan dua keluarga. Sekaligus sukses membangun keluarga bahagia. (MR)
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

