| Red-Joss.com | Fenomena sumbu pendek begitu masif akhir-akhir ini dan tidak mengenal musim. Puasa pun dilanggarnya.
Sumbu pendek itu, kalau dipersepsikan ke manusia adalah orang yang mudah marah dengan emosi yang tidak stabil. Hal kecil saja bisa jadi pemicu marah, bila dia salah terima terhadap apa yang dilihat, didengar dan dirasakannya. Padahal belum tentu apa yang ditangkap dan dipersepsikannya itu sesuai dengan kejadian dan makna yang sebenarnya.
Mereka adalah orang-orang yang cenderung membuat keputusan dan bertindak berdasarkan apa yang mereka rasakan, bukan apa yang mereka pikir paling masuk akal.
Ciri utama orang sumbu pendek adalah berpikir dengan hati. Mereka adalah orang-orang yang emosional secara alami. Penelitian bahkan menemukan, bahwa mereka biasa membahas masalah yang kontroversial hingga memutuskan untuk terlibat dalam kegiatan kekerasan atau tidak berdasarkan apa yang mereka rasakan pada saat itu. Orang menjadi reaktif sekali, beringas dan nalurinya yang dominan. Apalagi jika beramai-ramai.
Bagaimana jika kekerasan itu sudah direncanakan? Seperti yang terjadi diawal pekan suci yang menimpa Ade Armando. Bukan hanya kekerasan verbal tetapi fisik dan penganiayaan? Menghina martabatnya sebagai manusia.
Bagaimana jika kekerasan itu bersumber dari rasa benci dan iri seperti yang dialami oleh Yesus Kristus, Tuhan bagi iman Katolik kita. Kekerasan verbal yang luar biasa dan kekerasan fisik yang tanpa batas. Penindasan martabat manusia yang tanpa batas.
Apa yang kita pelajari dari peristiwa itu?
Bahwa… kekerasan tidak pernah menjadi cara yang benar untuk menyelesaikan masalah.
Bahwa… Sumbu pendek, karena berpikir pendek dan emosional sangat berbahaya saat mengambil keputusan.
Bahwa… Sumbu pendek, karena berpikir pendek dan reaktif emosional membahayakan hidup damai.
Bahwa… Sumbu pendek dapat menyebabkan makian, cacian, nyinyir, hoax, kekerasan, penganiayaan bahkan pembunuhan.
Apa yang harus kita pegang teguh dan terusksn sejak hari ini? Hari pertama sesudah Paskah?
Amanat Yesus: menjadi Pembawa Damai. Jaga pikiran, jaga hati, jaga tindakan.
Lindungi keluarga kita dari kekerasan. Entah verbal apalagi fisik.
Jika itu kamu lakukan, kamu layak menjadi murid-Ku
Tetap setia berbagi cahaya.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

