Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | “Banyak negara beragama justru tertinggal jauh dibandingkan negara sekuler. Secara politik negara sekuler lebih stabil karena kebutuhan dasar terpenuhi, HAM terjaga, tidak jaim, dan tidak saling klaim merasa paling benar.”
“Agama sebaiknya ‘tahu diri’ agar tidak mengintervensi kebijakan publik, termasuk olahraga dan kesenian. Jangan sampai agama justru menjadi ancaman jiwa.”
(Yes Sugimo, Melati wangi Cilengkrang, Bandung 40616. Suara Pembaca, Kompas, 2/5/2023).
Tulisan ini diangkat, karena saya terdorong oleh dua buah pendapat dari harian Kompas.
Masdar Hilmy, “Agama dalam Arsitektur Negara Bangsa” (Kompas, 17/4/2023), dan dari Suara Pembaca, Yes Sugimo (Kompas, 2/5/2023).
Kedua saudara itu, mau menyoroti “seolah tanpa ada korelasi positif antara kuatnya peran agama di satu sisi dan rendahnya kualitas kehidupan publik di sisi lain.”
Data hasil survei Pew Research Center (2020). Indonesia dan Filipina menempati urutan tertinggi sebagai negara yang mayoritas penduduknya (96 persen) menempatkan agama sebagai faktor penting dalam kehidupan publik.
Di papan bawah ditempati sejumlah negara maju yang sekuler, seperti Swedia (9 persen), Inggris (20 persen), dan Perancis (15 persen).
Saudara, data di atas memperlihatkan, bahwa ternyata, tidak ada korelasi antara tingkat kemajuan sebuah negara dan kuat lemahnya peran agama di negara dimaksud. Yang menarik, AS sebagai negara termaju berada di papan tengah.
Hal ini membuktikan, bahwa ternyata negara-negara sekuler lebih percaya diri terhadap keputusan mereka untuk menyingkirkan agama dari ruang publik.
Inilah sebuah ironi yang mengambing-hitamkan, bahwa agama dapat sebagai faktor penghambat kemajuan sebuah bangsa.
Dari balik kontroversi ini, penulis ingin, agar kita dapat berkaca serta berefleksi diri dalam hidup beragama serta dapat menumbuhkan relasi positifnya lewat kualitas hidup.
Saudaraku, tulisan kecil ini, tidak dimaksudkan, bahwa kuatnya kita dalam hidup beragama adalah salah, tidak. Juga, tidak dimaksudkan, bahwa kehidupan sekuler itu otomatis baik dan benar, tidak.
Semoga, seirama hebatnya pembangunan hidup berkeagamaan di dalam negara dan bangsa kita, sekaligus dapat membangun serta mensejahterakan kualitas kemanusiaan kita sebagai umat beragama.
Tingkat korupsi yang kian membabi buta di negeri tercinta ini, pun dapat membuktikan, bahwa tidak ada korelasi positif antara gencarnya hidup beragama dengan tingkat kesalehan anggota masyarakatnya sebagai umat beragama.
Semoga, tulisan kecil ini, dapat menjadi sebingkai cermin bening buat kita mengaca diri!
…
Kediri, 3 Mei 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

