Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Dalam pengalaman sekitar 25 tahun terakhir di kampung, ada relasi yang akrab antara berbagai khasanah tradisi adat budaya dan agama. Salah satunya adalah hal rohani – spiritual dalam warisan adat budaya dan tradisi agama. Misalnya dalam hal ritual kelahiran, perkawinan, dan kematian. Terjadi semacam relasi akrab saling melengkapi dan dijalankan bersamaan. Ada juga hal material seperti busana adat budaya, makanan dan kesenian, termasuk dalam ritual keagamaan. Hal ini saya saksikan dalam komunitas gereja Kristen Katolik. Entah dalam komunitas adat lain yang beragama bukan Kristen Katolik. Apakah ini yang disebut singkretisme dan inkulturasi?
Ada fakta, bahwa dalam ritual agama, digunakan juga bahasa lokal. Dalam tradisi awal agama Kristen Katolik, digunakan bahasa Latin. Namun, dalam perkembangannya diberikan keluasan untuk menggunakan bahasa lokal di berbagai komunitas. Salah satu tujuannya, agar umat beragama semakin mudah memahami ajaran iman agamanya dan semakin maksimal menghayati imannya.
Selain bahasa, maka ada juga pemakaian busana lokal dan kesenian lokal dalam ritual keagamaan. Busana lokal untuk umat, untuk hiasan ruang ibadah agama serta pakaian para pemimpin upacara keagamaan. Nuansanya semakin kontekstual dan menyatu dengan khasanah adat budaya umat setempat.
Lalu, ada kesenian adat budaya, musik dan lagu serta tarian, juga digunakan dalam ritual keagamaan gereja Katolik.
Menyaksikan fakta relasi adat budaya lokal dan agama tersebut, maka saya mengagumi sebuah titik temu khasanah spiritualitas adat budaya dan agama. Konteks adat budaya di setiap komunitas lokal memiliki sejarah panjang pengalaman religiusnya. Sedangkan tradisi spritual agama berasal dari luar tanah air Nusantara, yakni dari Eropa dan Timur Tengah. Fakta adanya relasi akrab dari dua tradisi spiritual, adat budaya dan agama, menjadi bahan refleksi menarik. Yang pertama soal sumber pengalaman spiritual, yakni dari Sang Pemilik Semesta yang sama, dengan kekayaan aneka nama serta simbol. Yang kedua, soal refleksi kritis pengalaman spiritual, sehubungan dengan makna ritus dan simbol. Ada dialog, kolaborasi dan inkulturasi.
Semoga semakin memperkaya khasanah makna spiritual dalam kehidupan komunitas adat budaya di tanah air Nusantara, di setiap komunitasย kampung.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

