Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | “Pernahkah Anda melihat seorang yang menggaruk-garuk kepala, saat berhadapan dengan orang lain?”
Berikut ini, beberapa penggalan kejadian berupa pengalaman, sehubungan dengan seorang yang spontan menggaruk-garuk kepala saat berhadapan dengan orang lain.
“Mengapa kamu hari ini terlambat lagi, Nak?” tanya seorang guru.
“Maaf Pak,” seru seorang siswa sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Seorang siswa, mulai menggaruk-garuk kepalanya, ketika kepergok sang guru, saat membuka catatan waktu ujian.
“Mengapa, Nak, kamu selalu menggaruk-garuk kepalamu, setiap kali Guru bertanya padamu?”
Gestur menggaruk-garuk kepala, adalah bahasa tubuh yang bersifat spontan serta psikologis, saat seorang merasa tidak paham tentang sesuatu, ketika ditanya. Atau seorang yang merasa kebingungan, karena kepergok melakukan sesuatu. Atau juga, saat seorang sedang berpikir keras tentang sesuatu yang belum diketahui jawabannya.
Gestur atau gerakan tubuh spontan ini pun, bisa dialami juga oleh seorang yang sedang stres atau pun frustrasi berat.
Saudaraku, tulisan kecil ini, bertujuan untuk memecahkan sebuah misteri tindakan menggaruk-garuk kepala yang sering kita alami atau pun bahkan kita saksikan di dalam kehidupan bersama dengan orang lain.
Hal ini dapat terjadi di rumah, sekolah, kampus, atau pun, bahkan di tempat kerja.
Jadi dapat disimpulkan, bahwa gestur ini adalah suatu reaksi spontan seorang saat menghadapi suatu kejadian.
Ini adalah reaksi atau gestur seorang yang bersifat alamiah serta psikologis, yang biasanya dialami seorang sebagai suatu reaksi emosi spontan.
Semoga, para orangtua serta para guru kita, agar sudi mencermati serta dapat memahami, dan mampu menerima reaksi ini, sebagai sesuatu yang alamiah, jika ternyata, juga dialami oleh anak atau siswa di rumah atau pun di sekolah.
Jauhi sikap penilaian negatif, bahwa ini adalah sikap atau tindakan yang tidak sopan atau pun bahkan dicap sebagai anak, atau remaja pemalu atau pun peragu.
Bimbing serta tuntunlah anak atau pun siswamu, dengan penjelasan yang mudah dipahami, jika mereka mengalami hal itu.
Bukankah hidup serta pertumbuhan jiwa dan raga seorang anak dan remaja itu berproses? Dalam konteks ini, termasuk pertumbuhan rohani serta psikologisnya.
Kediri,ย 30ย Aprilย 2023

