Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Saat beribadah dan merayakan momen keagamaan, terasa begitu megah dan penuh semangat. Ada sebuah harapan, bahwa nilai iman yang dirayakan akan dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Lalu, antara yang didoakan dalam perayaan, ternyata berbeda sekali dengan kenyataan kehidupan. Ada semacam paradoks dan penuh tanya soal relevansi perayaan keagamaan itu. Khususnya tentang fakta kesulitan, masalah, sakit, penderitaan dan berbagai kasus kejahatan. Maka, refleksi ini saya renungkan, lalu tuliskan dalam sajak:
Balada Gloria dan Halleluia
Gloria in exelcis Deo
et in terra pax hominibus
“Kemuliaan bagi Allah di tempat Maha Tinggi
Dan damai di bumi bagi manusia”
Dan
saat yang pujian itu berkumandang
Ada balada “passion hominibus”
Ada nyanyian lara manusia
Para gembala miskin di padang
Para pengungsi yang bingung
Para miskin desa dan kota
Para buruh pekerja pabrik, tambang, perkebunan, aneka proyek bangunan
Para TKW, TKI dan buruh migran lainnya
Masyarakat sederhana di lokasi proyek dan tambang
Rakyat jelata korban perang, radikalisme agama, penjajahan
Korban perdagangan manusia untuk buruh dan prostitusi
Kekerasan dalam rumah tangga karena persoalan ekonomi dan kebodohan
Sehingga
Damai di bumi jadi pertanyaan
Kemuliaan Allah kabur sirna
Lagu Gloria sayup terdengar
Halleluiaโฆ..
Terpujilah Allah Pencipta Semesta Alam
Terpujilah Yesus Raja Surga Bumi
Bergaung di seluruh dunia
dari bangunan megah ibadah
dari pujian para beriman
Sedangkan
di luar gereja megah itu manusia terus memikul balada
terluka bersimbah darah
haus dahaga kasih sayang
lapar merana perhatian cinta
Karena
Kemiskinan masih mencengkram hidup
Ketidakadilan terus merampas haknya
Kekerasan marak kibarkan kuasa
Iri dengki dendam permusuhan
Radikalisme atas nama agama
Terorisme demi nama Allah
Dilakukan dan disebar di medsos
Semarak Halleluia jadi ironi
Sudah 2000 tahun begema
Nyanyian Gloria dan Halleluia
mengiringi fakta balada manusia
Bahkan dinyanyikan umat beriman
yang sedang didera balada
Sorak Sorai dalam lara derita
Sukacita bermadah dalam sengsara
Senyum gembira dalam tanya
Sedangkan
Para pemimpin agamanya damai
nyaman dalam menara kuasa
Atas nama kesucian agama
Atas nama Allah Maha Kuasa
Bahkan
seperti sudah menjadi Allah
untuk menguasai para umatnya
dan menentukan surga neraka
bagi manusia penganut agama
Kemuliaan kepada siapa?
Pujian syukur kepada apa?
Ada tanya menguasai nalar
Ada gugatan dalam jiwa
Ada galau dalam nurani
Saat nyanyian Gloria berkumandang
Saat pujian Halleluia bergema
mengiringi balada umat manusia
mewarnai balada nasib insani
Yang didera ketakutan suci
Yang dilanda ketaatan sakral
Yang dikuasai hukum Ilahi
Yang diatur ajaran agama
Sehingga
tradisi keagamaan tetap dilakukan
ritual sakral terus dilaksanakan
Karena
takut dicap sebagai kafir
takut disingkirkan dari kehidupan
takut pada gugatan leluhur
Takut bertanya dan bicara
agar tidak salah berdosa
di hadapan sesama dan Allah
“Merasa beriman tetapi dalam ketakutan”
Hari ini
Kidung Gloria masih
berkumandang
di tengah balada manusia
Zaman ini
Lagu Halleluia tetap bergaung
di tengah lara derita insan dunia
Entah untuk siapa
Entah untuk apa
Dan
Ada harapan sirnanya balada
setiap umat beragama tahu
setiap umat beragama sadar
setiap umat beragama siap
Melagukan Gloria dan Halleluia
sebagai lagu jiwa raga
sebagai pujian iman dan doa
Bukan tradisi ritual ketakuan
Balada Gloria dan Halleluia
diharapkan akan lenyap sirna
Karena beragama dengan merdeka
karena bermadah dalam sukacita
karena berlagu sebagai syukur
kepada Allah Maha Cinta
Bukan dalam belenggu balada
karena takuti tradisi agama
karena takut siksa dosa
dalam diam seribu tanya
Dan bersinarlah cahaya makna
Gloraiโฆ Halleluia
Lagu Paskah milenial
“Manusia bangkitย dariย balada”
…
Foto ilustrasi: Istimewa

