Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Dalam pengalaman religius atau spiritual, setiap pribadi mempunyai kekhasan. Entah dengan latar belakang khasanah spiritual adat budaya maupun agama. Dalam mengikuti ritual yang sama dan perayaan keagamaan yang sama, namun makna dan penghayatannya berbeda untuk setiap pribadi. Lalu, nama Tuhan dan Allah yang sama, atau sosok rohani yang sama, namun dihayati berbeda oleh setiap pribadi. Hal itu tergantung dari latar belakang pengetahuan serta kapasitas diri, juga kepentingan dan status pribadi dalam komunitas adat budaya atau agama tersebut.
Dengan cara berpikir itu, saya tuliskan refleksi pengalaman iman atau spiritual pribadi pada sajak:
Pada Berjuta Wajah-Mu
Kali ini kutulis wajah-Mu
yang terekam halaman ingatan
yang terpatri di lembar rasa
yang terlukis di kanvas jiwa
oleh keterbatasan pena iman
Hanya satu warna
Hitamโฆ
Sudah kujumpa jutaan insan
yang mengaku pengikut-Mu
yang percaya pada sabda-Mu
yang jalankan doa ritual pada-Mu
yang serahkan hidup untuk-Mu
yang mewartakan ajaran-Mu
Dan
mereka tampilkan tulisan lukisan
ada jutaan model wajah-Mu
menurut pengalaman masing-masing
Berwarna-warni dan amazing
Padahal, sama nama-Mu
Aku pun ingin menulis wajah-Mu
Mau kuukir sosok pribadi-Mu
yang kuyakin ini milikku
Namun
Ternyata begitu sulit kulakukan
karena hanya satu pena
karena hanya satu warna
karena sulit menentukan wajah-Mu
karena terlalu banyak potret
karena beragam sosok wajah-Mu
Ternyata
untuk menulis sosok wajah-Mu
untuk melukis wajah pribadi-Mu
Yang kuyakin selama ini
Yang kupercaya hingga kini
Hanya kutemukan satu wajah
“Wajah-Mu berubah-rubah
dalam kepentingan dan seleraku
dalam hati sanubariku
dalam doa dan imanku
Tak ada yang menetap padaku
tak ada yang sungguh milikku
tak ada yang bertahan bagiku”
Aku tak punya wajah-Mu
Aku baru mampu sebut nama-Mu
Aku hanya ikut kebiasan saja
Kusadari kini
Biasa menyebut nama-Mu Tuhan
Sering berdoa pada-Mu Allah
Mengimani pribadi-Mu
Mengaku aku pengikut-Mu
Mengikuti ajaran sabda-Mu
Hanya karena biasanya begitu
Seperti tradisi yang berlaku
dalam komunitas agamaku
“Ampuni aku Yesus-ku
Engkau tahu siapa aku
ini aku datang pada-Mu
memohon Rahmatย Kasih-Mu”
…
Foto ilustrasi: Istimewa

