| Red-Joss.com | Dalam khasanah adat Jawa, ada ‘pitutur’ “ngilo githoke dewe’. Diadopsi dari kata ‘ngilo’ artinya bercermin, dan ‘githok’ artinya leher bagian belakang yang tak tampak dari depan, ketika bercermin.
Memang ‘pitutur‘ ini lebih dialamatkan kepada mereka yang merasa tak bersalah, bahkan sering membantah meski sudah ditunjukkan bukti-bukti yang cukup. Orang begini sulit menilai diri, dan enggan koreksi diri.
‘Ngilo githok’, jadi ritual personal yang sangat perlu dan dibutuhkan siapa saja, utama pemimpin. Ucapan dan tindakannya jadi cermin bagi yang dipimpin, digugu dan ditiru. Dimulai dari keluarga.
Tahun 1979, saat saya tinggalkan Yogya, meniti hidup baru, saya sempat ke Kokap, pamit saudara yang kepernah Simbah, diparingi ‘pitutur’: “Janji yo, Nak, karo Simbah. Nanti kalau sudah jadi orang sukses, sudah enak uripmu, mapan gitu maksud Mbah, kowe ojo lali karo Mbah yo. Jangan lupa diri. Jangan angkuh. Murah senyum pada siapa saja. ‘Simbah ora biso nyangoni apa-apa’. Cuma doa begini saja buatmu, ya. Moga-moga dongane mbah ditompo Gusti. Semua yang baik-baik buatmu. Jangan lupa doakan sesama yo nak…”
Dalam setiap langkah hidup dan sepanjang waktu, kita membutuhkan ‘pitutur dari Tuhan’ berupa Sabda-Nya, agar tidak tersesat, karena keliru memutuskan, ketika banyak tikungan kita temui, sebab “Sabda-Nya itu pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita.”(Maz 119: 105)
Salam sehat dan tetaplah pada pelita-Nya.
…
Jlitheng
Foto ilustrasi: Istimewa

