| Red-Joss.com | Di saat pahitnya hidup terasa membebani, tanpa sadar kita terdorong untuk menggerutu. Namun, yang wajib kita ingat, bahwa menggerutu itu tidak akan menyelesaikan masalah dan hanya akan membuat kita berhenti untuk ke luar dari masalah itu!
Selain itu, menggerutu menandakan, bahwa hatimu belum siap menjadi seorang yang ikut bertanggungjawab meringankan beban orangtua, selagi sempat.
Menggerutu itu hanya akan membuang waktu sia-sia. “Daripada menggerutu, lebih baik kamu ikut saya bekerja. Itu kalau kamu tidak merasa malu. Ikut saya kerja di proyek bangunan. Ikut membangun pasar.”
Saya terkesiap dengan *ucapan yang ke luar dari mulut teman desaku ini. Dia 3 tahun lebih tua. Jleeebbb!. Dia berhasil membangkitkan harga diri saya yang sesungguhnya.
Kisah nyata di tahun 1970. Harga diri semu muncul, ketika saya tidak diizinkan bersama teman sekolah mengisi libur sebelum kuliah. Alasannya memang hanya satu : “Simbok ora duwe duwit.” Dongkol, malu dan … terus menggerutu.
Batal piknik, saya ikut ajakan teman desaku. Jadilah kuli bangunan berijazah SMA. Tahun 1970. Di desaku jarang yang sekolah lebih dari Sekolah Rakyat, setara SD sekarang.
Sampai peristiwa itu terjadi. Pada hari keenam sebagai pekerja bangunan, Sabtu, sore hari, saya jatuh dari stagger dan tertimpa batu bata yang baru saya pasang sendiri.
Pada hari ke 3 istirahat, saya dikunjungi guru SMP saya dulu. Sambil mengusap luka-luka yang di perban, beliau ngendiko: “Jatuh itu memang sakit. Tetapi, ketika jatuh itu terjadi karena sebuah perjuangan, justru akan membuatmu lebih bermartabat.” Muncul dari dapur, sambil membawa teh, simbok ikut nyela: “Leres Pak guru. Anak kulo nembe sinau gesang, bilih mboten sedoyo kekarepan saged kasembadan.” (Tidak semua keinginan itu terwujud sesuai harapan).
Jatuh adalah manusiawi. Cara mengatasinya yang membuat martabatnya berbeda.
Tetap berani berbagi cahaya sambil terus berbenah.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

