| Red-Joss.com | Tawaran reuni atau ‘kumpul konco’ itu datang untuk yang ke sekian kalinya lewat chat WA atau telepon langsung padaku. Baik dari teman sekolah maupun komunitas. Untuk yang kesekian pula saya belum memberi jawaban atau kepastian, bisa tidaknya saya ikut temu kangen itu.
Sesungguhnya, acara reuni atau ngumpul dengan teman itu menarik sekali, karena diadakan setelah Lebaran. Acara yang cocok dan pas untuk silaturahmi dan melepas rindu. Istilahnya, kangen-kangenan.
Sayangnya reuni dengan teman sekolah itu diadakan di dua kota yang berbeda. Sedang saya bekerja di Ibukota, dan tidak libur.
Sebenarnya saya ingin cuti bekerja. Apalagi ada teman yang bersedia menyanggupi untuk pulang bareng menggunakan mobil pribadi, sehingga irit ongkos transportasi.
Temu kangen, silaturahmi, bahagia, dan merabuk nyawa… Wow!
Sesungguhnya, semua orang tentu ingin kumpul dan bertemu banyak teman untuk kangen-kangenan setelah sekian lama tidak jumpa, sambil cekakakan, dan bahagia.
Merabuk nyawa itu yang dipercayai oleh banyak orang sebagai mantra obat agar kita hidup bahagia, dan panjang usia.
Di acara reuni itu pula biasanya banyak teman membawa makanan jadul yang ngangeni, dan membuat kita rindu nostalgia indah!
Di sisi lain, ada juga teman yang ingin ikut reuni, tapi terkendala oleh biaya, sakit, atau halangan lain.
Ya, seandainya… Jika ajang reuni itu tidak sebatas temu kangen, tapi, juga kita mempunyai agenda kebaikan dan berbagi hal positif untuk teman atau sesama.
“Temu kangen, silaturahmi yang bersubsidi silang dan semangat peduli untuk berbagi.”
Kita yang mempunyai rezeki ‘lebih’, mensubsidi teman yang kurang beruntung, sakit, atau terkendala anggaran padahal ingin sekali reunian.
Alangkah indah, jika dalam reuni itu kita tidak nge-‘geng’, pamer materi atau prestasi. Tapi kita membaur dengan teman yang lain agar kebersamaan itu kian akrab, guyup, dan gayeng.
Seusai reuni mau apalagi? Umumnya, hal itu tidak pernah kita pikirkan. Kita langsung bubar! Kita lalu menghilang dan tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Padahal, lebih greget dan gayeng, jika usai reuni itu kita mempunyai agenda positif yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi sesama. Misalnya, berbagi ilmu pada alumni, kampung halaman, atau sesama sesuai dengan keahlian kita.
Semangat berbagi pada sesama, sebagai ungkapan syukur kita atas anugerah Allah yang luar biasa itu.
…
Mas Redjo

