| Red-Joss.com | “Saya dikenali dan cepat mendapat pertolongan, karena Rosario ini, yang ketika saya mengalami kecelakaan tergantung di leherku,” ucap Pak Barman mengawali renungannya.
Kecelakaan terjadi pada tahun 1995, dalam perjalanan kami (berdua dengan istri) menuju Halim (Jakarta) untuk Perayaan Natal Keluarga, ketika motor kami diserempet motor lain dan terjatuh. Kedua tulang belikat saya patah. Salah satu penolong bertanya : “Bapak seorang Katolik?” Saya jawab “Ya.” Dia bertanya, karena melihat Rosario yang tergantung di leherku.
Pertolongan lantas sangat cepat dan ramah sekali. Tanpa saya mintapun, Bunda Maria sudah menolong saya lewat orang-orang baik itu.
“Tak pelak lagi, Bunda Maria adalah Penolong Abadi,” lanjutnya.
Maka, setiap kali mendengar atau bernyanyi lagu *Maria Penolong Abadi, saya pasti ingat peristiwa itu. Dia telah menolongku, bahkan ketika saya belum memintanya.
Kami berdua, saya dan istri, sangat kagum akan sikap tanggap Bunda Maria. Bunda yang ‘Endless Love’, ‘Our Lady of Perpetual Help’, ‘Mater de Perpetuo Succursu’.
Iman kami makin kuat dan kian tak ragu mengikuti langkah hidupnya, yakni makin dekat Puteranya, Yesus Al Masih. Lakukan apa saja yang diminta-Nya.
Lagu ‘nDerek Dewi Maria, ibu geng kang manah. Mboten yen kuwatosa, Ibu njangkung tansah’ mengakhiri sembayangan di lingkungan kami. Kami berpisah dalam damai untuk segera jumpa lagi di ibadat-ibadat berikutnya. Hadir ya!
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

