| Red-Joss.com | Jika masih ada, baik bersapa. Jika sudah tiada, akan ada ruang kosong di hati, seperti kami, ketika tangan maaf tak lagi terulur dengan tetangga depan rumahku, yang menyapaku tiap pagi: “selamat pagi.”
‘Open house’ rumahnya tak pernah lagi terbuka, sejak ia dipanggil pulang oleh Sang Pemilik jiwa.
Tetangga Katolik samping rumahku, yang tiap lebaran rajin mengajak bersilaturahmi, sudah lama tak menyapa, sebab Sang Empunya Kuasa telah memanggilnya juga kembali ke alam baka.
Lebaran pagi ini memang sunyi, nyenyet. Bunyi takbir juga tak seperti tahun lalu, ada satu juga suaranya terasa jauh.
Hari ini, rumahku ‘open house’. Anak, mantu, dan cucu pasti datang. Kami tetap berlebaran. Lebaran ketupat bersama. Opor pelengkap pasti ada. Pengobat rindu Lebaran keluarga.
Di luar memang sunyi, ketika tetangga depan dan rumah kanan telah tiada. Tapi hangat cinta keluarga tiada duanya.
Selamat Lebaran. Semoga damai tetap di hati. Damai yang hanya Tuhan saja bisa beri.
…
Jliteng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

