| Red-Joss.com | “Ek”, begitu kami semua panggil namanya. Seorang teman muda yang mengambil jalan lurus dalam hidupnya. Sebuah hal yang telah terlihat semenjak dia menjejakkan langkah pertama di kampus.
Tak ada istilah mencontek ataupun “mengarang bebas” dalam laporan praktikumnya. Semua serba jelas dan menuruti kaidah yang benar. “Sebenar caranya beribadah sebagai seorang kristiani yang taat. Nyaris tak ada cela dalam hidupnya.“
Jalan hidup tak banyak mempertemukan kami semenjak lanjut kuliah ke negeri orang, dan setelah aku bekerja di Jakarta.
Tiba-tiba, di suatu senja: “Ek, kakakku, kena kangker. Om sudah dengar? Aku Er, Om lupa ya. Aku adik Ek. Dulu Om pernah ajak nonton keroncong lho…”
Suara dengan logat Lampung yang kental terdengar di ujung telepon. Suara dari Er, salah satu kenalan waktu dia SMA, yang tak kutemui sejak 42 tahun silam.
“Walau hati terasa teremas, ketika lihat kondisinya yang bisa terbaring saja di tempat tidur dengan tonjolan tulang yang tampak jelas di pipinya, tapi dari awal kami niatkan untuk tak tenggelam dalam sebuah layanan yang dialiri kesedihan.”
Suara Er tercekat, ketika dia menceritakan kisah hidup sang kakak yang dihabiskan di masa hidupnya. Sebagai sulung, ia membantuku untuk membesarkan anak-anak, karena kondisi ekonomiku waktu itu sedang jatuh.
Sebuah kewajiban yang tidak membuat Ek, kakak, ‘ngrasa’ terhambat untuk mengurusi hidup sendiri dan suaminya, yang juga sakit.
Nada sedih menggantung di udara. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Suara anak kecil yang berlari-lari di ruang makan terpantul hingga ke dalam hape-nya
Sambil masih menghela napas panjang dia berkata, “Apakah yang direncanakan Tuhan. Mengapa seorang yang “selurus” kakakku ini tak dibolehkan sekadar menikmati waktu lebih lama bersama ponakan-nya?”
Kali ini aku cuma bisa terdiam. Tanpa kata. Ikut tercekat dalam waktu yang lama. Bahkan sampai saat kuakhiri tulisan ini.
Namun ada hal yang tak ingin kulupakan, yakni cerita dari seorang sahabat Muslim yang akan menengok temannya di di RS Dharmais, karena sakit terminal, kanker lanjut.
Katanya: “Bila jenguk dia di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendoakan dia agar dapat rahmat hingga waktu sore tiba. Bila tengok di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendoakannya agar dapat rahmat hingga waktu pagi tiba.”
Kenapa kau lakukan itu? Dia menjawab: “Karena aku ingin menolong dia lebih, tapi tidak bisa, maka aku minta bantuan malaikat. Aku nggak salah kan?”
Hari Kartini seperti terasa usang, peringatannya pun sudah suam-suam. Tapi, dua perempuan yang lebih muda dariku, walau sudah banyak cucu, tetap tampil sebagai Kartini sejati, dengan hati suci melayani kakak, menengok dan mendoakan teman.
…
Jlitheng

