Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Belajar dari pengalaman menghadiri kedukaan dalam keluarga maupun sesama saudara di kampung serta di kota, ada hal prinsip yang dideklarasikan. Selain mendoakan keselamatan bagi pribadi yang meninggal hingga pemakamannya, ada satu hal menarik yang saya saksikan. Ada penegasan dan pembaharuan relasi kekerabatan bagi semua yang masih hidup, serta menghadiri seluruh prosesi kedukaan itu.
Penegasan relasi kekerabatan itu adalah soal asal usul pribadi yang meninggal. Siapa ayah ibunya, kakak adiknya, keluarga besar dari orangtuanya. Jika yang meninggal sudah berkeluarga, maka relasi dengan keluarga suami atau istri serta keluarga menantu akan diperbaharui dan dipertegas. Dalam konteks adat budaya lokal, selain kehadiran dari semua keluarga kerabat itu, ada juga hak dan kewajiban dalam ritual serta bentuk dukungan materialnya.
Penegasan relasi kekerabatan berikut berkaitan dengan relasi bertetangga, relasi berkomunitas di lingkungan kampung maupun adat budaya. Lalu, relasi kekerabatan karena kesamaan agama dan antar agama. Relasi kekerabatan karena pekerjaan dan profesi, hobi, urusan ekonomi, politik serta relasi kepentingan lainnya; baik dari orang yang meninggal, maupun keluarga yang masih hidup. Berbeda dengan kegiatan pesta, relasi kekerabatan masih diseleksi dengan beberapa alasan teknis dan material. Namun, dalam urusan kematian, totalitas relasi kekerabatan lebih spontan tercurah, karena panggilan kodrati.
Salah satu alasan kodrati adalah kematian itu sendiri. Karena setiap orang pasti mati, maka dorongan kehadiran berbela sungkawa adalah karena saya juga pasti akan mengalami kematian. Dengan alasan demikian, maka relasi kekerabatan akan semakin mempertegas dan mengikat setiap pribadi saat ada kematian sesama saudara. Di hadapan kematian dan jenazah, banyak hal yang bersifat selera, gengsi dan pertimbangan pragmatis ekonomis serta politis akan bergeser ke pinggir. Yang utama adalah nilai kodrati dan relasi hakiki kemanusiaan.
Sebuah petuah tradisi kampung mengingatkan, bahwa jawaban paripurna tentang โsiapakah akuโ, juga keluargaku adalah, ketika saat saya mati. Berapa banyak yang hadir dan memakamkan jenazah saya. Alasannya adalah semua yang hadir saat kematianku adalah penegasan atas amal perbuatan saya, ketika menyatakan diri dan menganyam pribadi dengan semua relasi kekerabatan itu, selama kehidupanku.
Pengalaman lahir, hidup dan puncaknya kematian adalah sejarah ziarah kodrati manusia. Sering saat sakit, duka lara derita dan kematian, menjadi bingkai bagi setiap pribadi untuk melihat dua hal: siapakah aku, dan siapakah sesama saudaraku. Kualitas relasi timbal balik antara pribadi dan sesama, sungguh dipertegas saat pengalaman keterbatasan dan ketakberdayaan, bukan pada saat kemakmuran dan berkelimpahan.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

