| Red-Joss.com | Adalah dialog antara Yesus dengan seorang ahli Taurat dalam kisah tentang “Orang Samaria yang baik hati.” Intinya, “Siapa sesamaku manusia?” Pertanyaan ini bertitik tolak dari hukum kasih, pada Allah dan sesama “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Yesus tahu, bahwa ahli Taurat sudah tahu hukum kasih itu, ‘hukum yang menjadi jembatan menuju hidup kekal’.
Melalui cerita tentang orang Samaria yang baik hati, Yesus membantu ahli Taurat untuk merubah cara berpikirnya, merubah pertanyaan dari, ‘siapa sesamaku’ menjadi ‘aku ini sebenarnya sesama bagi siapa?‘ Lha ada orang yang menderita, umatnya sendiri, tetangganya, koq… dilewati saja, api-api ora ngerti, ‘ora weruh’.
Pada akhir cerita itu, Yesus bertanya dan membuat orang sadar akan arah yang semestinya dipikirkan. “Siapakah dari antara ketiga orang itu adalah sesama bagi orang malang itu?“ Tak bisa lagi dielakkan, sesama manusia bagi orang malang itu ialah orang Samaria tadi.
Pembaca dituntun beralih dari bertanya “Siapakah sesamaku?” menuju ke pemeriksaan diri “Aku ini sesama bagi siapa?”
Kejujuran, kebaikan hati, kemauan menolong tidak menjadi pusat perhatian. Semua ini diandaikan ada.
Yang mesti ditanyakan adakah, dari semua yang kupunyai ini untuk siapa? Dengan semua ini, aku bisa menjadi sesama bagi siapa?
Lebih jauh lagi, dengan menjadi ‘sesama’ ini, bisakah aku makin menjadi jalan bagi sesama itu untuk tahu apa itu mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan dan segenap akal-budi?
Bila kita sampai ke situ, boleh dibayangkan Yesus juga akan menyapanya dengan penuh pengertian, “Apik tenan!“ Artinya jalan ke hidup kekal sudah benar.
Lihatlah, jutaan saudara-saudarimu Muslim, pada hari ini menjadi Orang Samaria yang baik. Merayakan Hari Raya Berbagi Kasih.
Makin bersemangat untuk berbagi cahaya.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

