Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | “Bola matamu adalah sekeping jendela hatimu.”
Mari saudara, ikuti dengan saksama dua kisah berikut!
Kisah pertama,
“Kacamata Hitam”
Dialog antar seorang perantara ‘joki’ dengan seorang ‘calon pembeli’ rumah.
Ketika hampir selusin rumah yang diperlihatkan sang perantara alias sang joki kepada sang calon pembeli rumah dan selalu ditolak, maka bertanyalah sang perantara kepada sang calon pembeli rumah.
“Mangapa, Tuan selalu menolak semua rumah mewah yang telah saya perlihatkan?”
“Ah, rumah-rumah itu terlalu gelap bagiku, aku membutuhkan sebuah rumah yang bercat terang dan berceria, Saudara.”
“Haa, maaf Tuan, lepaskan dulu kacamata hitam di mata Tuan!”
(Setetes Embun bagi Jiwa, Drs. Timotius Adi Tan).
Kisah kedua:
“Buta”
Di zaman dulu, tradisi Jepang, jika bepergian malam hari, orang wajib memakai obor.
Di malam itu, saat sang ‘tamu yang memang seorang buta’ hendak kembali ke rumahnya, sang Tuan rumah menawarkan sebuah obor. Sang tamu buta itu pun menerima, lalu segera pergi.
Namun, sayang seribu sayang, ternyata si buta itu ‘tidak menyalakan’ obornya. Maka, di tengah jalan sang tamu itu ditabrak seseorang.
Orang yang menabrak itu pun membentak dan berkata, “He, kamu ini hendak ke mana, mengapa kamu tidak melihat oborku ini,” teriaknya.
“Minyak oborku habis,” kilah si buta yang ditabrak.
(Secangkir Teh, Editor Y. Rumanto, SJ).
“Kacamata Kuda” adalah secarik bahasa berkias. Bermakna konotasi, yang artinya, “perilahu egois, bertindak tanpa melihat kiri-kanan, yang penting tujuannya tercapai. Dia tidak peduli, walaupun orang di sekitarnya menderita.
Saudaraku, apakah Anda dan saya pun, saat ini juga sedang ‘berkacamata kuda?’ Jika demikian, kita telah mencederai banyak orang. Apalagi jika Anda itu, ternyata sebagai seorang pemimpin, tokoh pejabat, orangtua, guru, atau pun seorang pengambil kebijakan publikโฆ
Dampaknya, kehidupan ini pun akan remuk berantakan akibat kacamata kuda yang sering kita pasangkan di dalam kesadaran serta sanubari kita.
Lewat kehidupan ini, ternyata, sebagian dari kita pernah ganti pekerjaan, bahkan ganti pasangan hidup, ganti teman, dan ganti pacar, tetapi dia tidak pernah berpikir untuk mengganti dirinya. Dia tidak sudi berubah!
“Humilitas Occidit Superbiam“
“Kerendahan Hati Mengalahkan Kesombongan.”
…
Kediri,ย 20ย Aprilย 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

