Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Saya ikut jadi anggota di sejumlah grup medsos. Banyak informasi dibagikan oleh anggota grup setiap hari. Ada ucapan selamat, ada berita pribadi dan kejadian di komunitas atau tempat kerja, serta berita duka dan iklan. Lalu, ada terusan info dari sumber lain. Isinya bermacam-macam, musik dan hiburan, UMKM dan ekonomi, urusan agama, juga politik menuju pemilu 2024.
Tentang urusan politik, juga ada aneka informasi. Ucapan salam hari raya dari para caleg dan parpol, safari politik caleg pusat hingga daerah, komentar para tim pendukung, analisis pakar, informasi dari KPU, bahkan mulai ada saling serang antara caleg dan para pendukungnya. Ini baru bulan April 2023, pemilu akan terlaksana 2024.
Karena ini grup medsos, maka yang terlibat dalam grup ada aneka latar belakang, termasuk simpati dan partisipasinya pada caleg dan parpol tertentu. Ada juga yang caleg, dan ada tim pendukung caleg tertentu. Karena itu, ketika mengikuti banjir informasi politik di medsos, saya kagum karena bisa belajar banyak hal. Namun, sekaligus heran, karena berpikir, bahwa grup medsos yang anggotanya bervariasi itu, dijadikan ajang ekspresi sikap politik, bahkan mulai saling serang dengan menjelekkan lawan politik, demi membenarkan pilihan politiknya. Ya, nanti ada admin grup yang berwenang mengendalikan aneka konten dari setiap anggotanya, dengan rambu-rambu grup medsos yang ditetapkan.
Dalam konteks sistem pemilu sekarang, dengan banyak parpol dan caleg, ada fenomena menarik yang saya amati dan dengarkan. Soal tim pendukung atau pemenangan, ternyata bisa membuat pilihan caleg dan parpol yang berbeda di setiap tingkatan. Di kabupaten, dia mendukung caleg A dari parpol A. Di propinsi caleg B dari parpol B, di pusat caleg C dari parpol C. Ada banyak alasan dan pertimbangan dari pilihan dukungan yang demikian. Hal ini pun bisa terjadi dalam pengurus parpol, bahkan para calegnya. Hemat saya, inilah kemungkinan yang terjadi, karena kreasi, inovasi dan kolaborasi kepentingan, yakni mengumpulkan suara dukungan untuk menang.
Dengan fenomena tersebut, saya membayangkan warna-warni pengaruh di masyarakat; baik secara kelompok suku, komunitas maupun pribadi. Bagaimana mencerna informasi untuk nanti membuat pertimbangan dan pilihan dalam menggunakan hak suaranya. Ada kemungkinan, pilihan mendukung caleg, bisa juga tidak sesuai parpol, tetapi sesuai figur. Alasannya pun pasti bermacam-macam oleh setiap pribadi. Dan proses masih berjalan, hingga hari pemilu 2024 nanti. Ruang kemungkinan perubahan pilihan masih terbuka lebar. Harapannya, kecerdasan masyarakat semakin diandalkan untuk membuat pilihan bijaksana di TPS nanti. Sebaran informasi di medsos, diandaikan sebagai bagian pembelajaran dan kekuatan baru, dalam mengikuti pemilu 2024.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

