RedJoss.com – Jujur, berterus terang, dan berani bertanggung jawab. Sikap itu yang harus dimiliki para ksatria, jika kita ingin menjadi warga masyarakat yang baik.
Kita tidak seharusnya mencla mencle, plintat-plintut, memberi kesaksian palsu, atau menyalahkan orang lain alias cuci tangan dan mau menangnya sendiri.
Cobalah bertanya pada hati nurani. Kita juga tidak mau disalahkan dan dikorbankan. Lebih suloyo lagi, jika kita menjadi kambing hitam dan harus bertanggung jawab atas perbuatan orang lain.
Untuk dipikirkan pula.
Apakah kita bahagia dan tidak menyesal dengan mengorbankan orang lain?
Apakah kita bisa hidup tenang, sedang orang lain menanggung aib dan menderita?
Bagaimana, jika hal yang pahit dan menyakitkan itu menimpa keluarga kita?
Kenyataan pahit yang tidak pernah kita pikirkan.
Jika kita tidak mau disalahkan atau dikambinghitamkan, ya, kita jangan melakukan hal yang sama pada orang lain.
Jangan ajari hati kita untuk bersikap tak acuh, masa bodoh, hingga kita kehilangan empati dan mengorbankan orang lain demi gengsi atau materi. Apalagi, jika kita membiasakannya, hingga akhirnya hati nurani kita mati.
Seorang ksatria itu tidak mau menari di atas penderitaan orang lain. Ia berani berbuat, berani pula untuk bertanggung jawab.
Seorang pemimpin ksatria itu berani menanggung kesalahan anak buahnya dan mundur dari jabatannya. Sebab tidak ada anak buah yang jelek, kecuali pemimpinnya yang bodoh.
Saatnya mawas diri.
Kita belajar untuk kontrol diri agar tidak menuruti emosi atau ambisi yang hanya menjatuhkan martabat kita sendiri. Untuk menjadi pribadi yang jujur dan rendah hati.
Semoga Tuhan memberkati. (MR)
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

