Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Beberapa saat lalu, saya sempat berkumpul di rumah seorang adik dalam rangka merayakan hari Paskah. Ada sejumlah kerabat yang hadir di sana. Sambil menikmati hidangan, ada kisah menarik tentang ‘tamu politik’. Ada tokoh parpol dan caleg yang sudah bertamu di keluarga, ada yang kirim kabar dan permohonan dukungan melalui gadget dan meminta waktu untuk bertamu. Ada yang justru sedang ada dan menunggu di rumah keluarga, sementara pemilik rumahnya masih di tempat kami berkumpul.
Cerita dari adik pemilik rumah tempat kami berkumpul, bahwa dalam keluarga hanya mereka berdua suami istri. Artinya hanya ada dua suara untuk memilih. Namun, adik mencerikan bahwa sudah lebih sepuluh orang caleg yang bertamu dan meminta dukungan suara, serta dicarikan suara. Semua tamu politik itu memang ada hubungan darah keluarga, ada yang se-suku dan kampung, ada yang teman sekolah, ada yang rekan kerja yang mau pensiun, ada juga yang bertetangga. Ini baru adik yang laki-laki, belum lagi melalui istrinya.
Sambil bercerita, kakak dan istrinya pun sampaikan ada tamu politik yang sedang menunggu di rumah. Ada hubungan keluarga, selama ini terjalin relasi harmonis. Tamu itu juga kepentingannya sama, yakni meminta dukungan suara dan mencarikan suara pemilih. Kedua kakak ini adalah pensiunan guru SMA, juga aktif di kegiatan agama dan sosial. Ternyata, tamu politik yang sudah mendatangi keluarganya, tidak saja yang ada hubungan darah, melainkan juga yang tetangga, mantan murid sekolah, teman guru, dan relasi persahabatan lainnya. Di rumah mereka ada lima suara pemilih, berdua suami istri, dua anak dan seorang menantu.
Menarik dan patut menjadi perhatian. Ini baru bulan April 2023, sedangkan pemilu nanti 2024. Maka, masih ada sekian bulan hingga saatnya memilih di TPS Pemilu 2024, baik untuk caleg maupun capres, dan ada juga yang pilkada. Hemat saya, untuk dua keluarga yang berlatar belakang pendidikan tinggi dan pergaulan luas ini pun sudah mengeluh. Siapa yang harus didukung, dan apa pertimbangan atau alasan mendukungnya. Tamu politik tidak bisa ditolak, karena kenal, keluarga dan kerabat, tetapi dukungan suara seperti apa. Suara terbatas, yang datang meminta sangat banyak, lalu kepada siapa akan diberi dan karena alasan apa.
Dalam perjalanan pulang dari tempat pertemuan keluarga, saya berpikir dan kemudian menuliskan catatan ini. Betapa besar pengaruh kebijakan politik untuk pemilu 2024 ini. Inilah satu hasil dari kesepakatan politik para politisi di ruang terhormat. Inilah fakta kehidupan berbangsa dan bernegara di NKRI sekarang. Maka, pikiran ngelantur membayangkan pengalaman yang sama, akan terjadi pada keluargaku di kampung dan komunitas adat budaya, juga di berbagai pelosok negeri ini menuju pemilu 2024. Berduyun-duyun tamu politik masuk keluarga, entah di kampung dan komunitas desa, maupun di kota. Kepentingan tamu politik itu sama, yaitu mendapat dukungan suara agar menang dalam kontestasi politik di pemilu 2024.
,,,
Foto ilustrasi: Istimewa

