| Red-Joss.com | “Seberat dan sesulit apa pun deraan hidup ini, dengan semangat rendah hati kita mampu melewati semua itu. Hidup kita juga selalu dicukupi-Nya.”
Sesungguhnya, semangat rendah hati itu nafas hidup orang beriman. Ibarat pintu hati yang senantiasa terbuka untuk menyerap hal-hal baik dan energi positif agar kita teguh dalam iman, pengharapan, dan kasih.
Saya lalu teringat kembali dalam suatu perbincangan di pinggir Danau Rawa Pening dengan Bapak Petrus, seorang nelayan yang bijak.
“Apakah Bapak selalu membaca ulang suatu postingan hal baik dan positif, atau mengabaikannya?”
Kesan pertanyaan Bapak Petrus itu biasa dan sederhana, tapi menurut saya maknanya dalam. Karena setiap jawaban itu mencerminkan pribadi orang yang bersangkutan.
“Awalnya, saya sering melewatinya, karena merasa pernah membaca dan tahu isinya. Setelah bertemu Bapak, pikiran saya jadi terbuka. Saya baca ulang untuk ingatkan diri sendiri. Dipahami dan dipraktekkan isinya, lalu untuk diteruskan kepada orang lain agar bermanfaat bagi mereka.”
Sesungguhnya, berbincang dengan Bapak Petrus itu ibarat membaca buku yang tiada berseri dan tiada habisnya. Saya banyak belajar dari Beliau semangat kerendahan hati yang sungguh bergema dalam sunyi.
Faktanya, disadari atau tidak, banyak di antara kita yang menilai seseorang itu cenderung dari asal usulnya, tampilan atau statusnya. Tidak dari bidang keilmuan maupun semangat kerendahan hatinya.
Karena Bapak Petrus itu pula saya memahami semangat berbagi itu tidak sebatas dari yang dipunyai atau kelebihan kita, tapi kerelaan hati untuk memberikan yang kita punyai. Lewat pikiran, kata-kata, perilaku, tenaga, bahkan bisa juga berbagi dengan doa. Untuk mendoakan dan memberkati orang lain.
Sesungguhnya, di dunia ini tidak ada orang yang miskin. Kecuali bagi mereka yang malas belajar, bekerja, berjuang, dan malas berbagi dari apa pun yang dianugerahkan Allah pada kita.
Selalu bersyukur dan rendah hati, karena kita selalu dicukupi-Nya.
Semangat berbagi, karena Allah murah hati.
Mas Redjo

