| Red-Joss.com | Ketika kita melaksanakan tugas pelayanan di suatu tempat sudah terlalu lama, dirasa ataupun tidak, ada kejenuhan, ada hal-hal yang tidak fresh lagi, ada sesuatu yang menurun, motif dan mutu dalam melaksanakan tugas itu.
Merasa diri sudah ‘katam’ dengan peran yang diemban, sehingga kurang rela, bila ada masukan. Minat dengan ‘pembekalan’ menurun (dah katam). Muncullah rasa ‘kementhus‘ akan tetapi ‘ora sembada‘. Oleh karenanya, dalam rangka menggiatkan kembali atau memurnikan lagi motivasi dalam melayani, dibutuhkan suasana baru di pikiran dan hati ini, sehingga kualitas pelayanan kita dapat meningkat.
Yang perlu terus disegarkan adalah mutu pelayanan itu agar “makin tulus dan sepenuh hati.”
Tulus: sincere/sincerus: utuh, bersih, murni, tidak terluka, tidak tercampur, tidak tercemar; bebas dari kepura-puraan atau kepalsuan.
Sepenuh Hati: utuh, whole-hearted, berkomitmen penuh, bersungguh-sungguh, bebas dari keraguan.
Dengan demikian kita boleh memetik buahnya, yakni lego ing ati (lego: damai yang terbit hanya karena pengabdian yang tuntas).
Tekunlah berbagi cahaya.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

