Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | “Ketika si tikus basah dapat menaklukan sang kucing perkasa, serta si mungil David mampu mengalahkan sang raksasa rabun Goliat.”
“Inilah sebuah amanat tentang kearifan!”
Mungkin di antara kita, pernah mendengar kisah inspiratif berikut ini.
Saat seorang ‘pendayung sampan’ (PS), sedang menyeberangkan sang filsuf, terjadilah sebuah dialog.
Tanya sang filsuf, “Apakah engkau tahu tentang psikologi?”
“Tidak sedikit pun, Tuan,” jawabnya.
“Jika demikian, engkau telah menyia-nyiakan seperempat hidupmu.”
Beberapa saat kemudian, sang filsuf mengajukan sebuah pertanyaan lagi,
“Apa yang engkau ketahui tentang sosiologi?”
“Maaf Tuan, saya juga tidak tahu.”
Sang filsuf pun dengan angkuh menyambung, “Ternyata engkau telah menyia-nyiakan setengah hidupmu.”
Kini, sang filsuf pun masih melanjutkan pertanyaannya,
“Tahukah engkau, tentang antropologi?”
“Tidak, Tuanku.”
Sahut sang filsuf angkuh, “Kini, engkau sungguh telah kehilangan tiga perempat hidupmu.”
Saudaraku, tak lama berselang, turunlah gemuruh badai dasyat menerjang samudera, mengombang-ambingkan sang biduk kecil itu.
Ternyata, sang filsuf angkuh itu, kini sangatlah ketakutan.
Dengan nada tenang serta meyakinkan, bertanyalah sang pendayung sampan itu.
“Apakah Tuan tahu, tentang ilmu berenanglogi?”
“Maaf, aku tidak tahu dan tidak bisa,” ujar sang filsuf angkuh itu.
Kata si pendayung sampan itu,
“Tuan filsuf nan angkuh, kini ternyata, Tuan telah menyia-nyiakan seluruh hidupmu.”
(Setetes, Embun bagi Jiwa, Drs. Timoteus Adi Tan).
Saudaraku, mungkin Anda pun pernah menjumpai dialog serupa ini di dalam hidupmu.
Saat, seseorang dengan bangga membusungkan dada atas nama melubernya isi kepalanya dengan sederet gelar kesarjanaan sambil bersombongria tidak pada tempatnya.
Di manakah sang kearifan jiwa serta keluhuran nuraninya, ketika dengan angkuhnya mengajukan pertanyaan kepada seseorang yang memang, bukan bidangnya.
Yang bodoh serta tolol dalam kisah ini, justru si sang filsuf angkuh itu.
Saudara, ternyata, tidak ada keselarasan dan kebijaksanaan antara isi kepalanya dengan isi hatinya. Jadi, sesungguhnya, betapa kerdilnya sang ilmuwan ini.
Ilmu pengetahuan rasional serta seabrek gelar yang disandang, ternyata tidak selalu melahirkan kebijaksanaan. Malah, sering melahirkan kebodohan yang sungguh memuakkan.
Inilah contoh sang ilmuwan yang justru terasing dari dunia nyata.
“Sang kebijaksanaan, di manakah engkau?”
“Apakah gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia justru kehilangan nyawanya?”
…
Kediri,ย 14ย Aprilย 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

