Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Beberapa hari ini ada informasi menarik di grup WhatsApp komunitas kampungku. Pembicaraan tentang relasi komunitas adat budaya lokal dengan koloni Portugis sekitar tahun 1600 – 1890. Ada beberapa fakta sejarah yang masih terwarisi hingga saat ini yakni nama suku Portugis, tradisi agama Katolik, benteng, serta catatan sejarah di Portugis.
Yang memprihatinkan adalah justru cerita sejarah kampung kehilangan nara sumber, dan justru baru disadari dan bisa belajar kembali karena ada sejumlah catatan dari penulis pada zaman koloni Portugis itu. Maklum, tradisi kampung berlatar kelisanan – oral tradition Maka, bagi generasi sekarang yang berminat dengan sejarah asal usulnya, menjadi sangat sulit mengenal adat budaya, karena hilangnya nara sumber kampung, kesulitan bahasa serta data lainnya.
Sejarah kampung dan asal usul identitas kultural justru tinggal “serpihan puing” yang tidak mudah dikenali karena hilang nara sumber kampung dan data pendukung. Ketika ada beberapa syair adat dan cerita sekitar suku, ritual dan tempat sakral, maka pengetahuan yang diwariskan pun sangat sedikit. Maka, lahirlah multi tafsir serta bias pemahaman, lalu bisa jadi debat kusir. Data sejarah hanya serpihan puing, atau sisa uap dan aroma, tapi tak tahu sumbernya.
Mungkin ada beberapa upaya sedang dibuat. Misalnya melalui kegiatan seni musik, lalu diungkap sastra lisan yang masih diingat. Ada juga beberapa kisah sejarah yang masih dikuasai pribadi tertentu dan ditulis. Misalnya tentang sosok Teka Ikut yang hidup di awal abad 20. Namun, sumber data lain adalah tulisan dalam bahasa Belanda dan Portugis, dan bisa diakses jika menguasai bahasa tersebut dan tahu jaringannya. Ada yang sedang menulis jurnal dalam bahasa Portugis dan menemukan serta mengungkap sejumlah data sejarah, yang di kampung sudah dilupakan generasi, karena tidak mempunyai data dan nara sumber lokal.
Ada harapan untuk mengumpulkan puing data sejarah kampung itu melalui kecanggihan saran informasi digital zaman now. Misalnya dengan Googling dan terjemahannya, sehingga data dari para penulis zaman kolonial bisa diakses dan dipelajari oleh yang berminat. Persoalannya adalah berapa banyak generasi muda pewaris kampung yang berminat. Lalu, masikah diperlukan manfaatnya tentang identitas kultural oleh generasi zaman now di setiap kampung adat budaya di Nusantara ini. Bermakna atau tidak, kembali pada komunitas adat budaya di kampung masing-masing dan generasi pewarisnya. “Kalau bukan kita – siapa lagi, kalau bukan sekarang – kapan lagi.” Masih diperlukan?
…
Foto ilustrasi: Istimewa

