Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Ketika mengunjungi sejumlah kampung tua di wilayah daerah adat budaya lokal, sempat ditemukan bangunan batu seperti menhir, dolmen, punden berundak dan tumpukan batu ritual. Mereka yang ditanya pun hanya memberi info seadanya. Menurut cerita orangtua dan sesepuh kampung, bahwa puing batu-batu tersebut adalah peninggalan para leluhur. Namun, sudah lama tidak digunakan lagi. Ada banyak alasan, bahkan para sesepuh pun enggan menceritakan. Entah kenapa, mungkin ada rahasia atau memang tidak tahu.
Ada sempat diceritakan bahwa dahulu kala di area puing batu-batu tersebut adalah kampung lama yang ditinggalkan. Apa alasannya, juga tidak diketahui. Maka, tempat lokasi puing batu ritual tersebut terkesan angker, karena dipercayai sebagai tempat keramat leluhur. Namun, tidak lagi dilakukan ritual adat budaya, karena para pemangku adat sekarang pun tidak tahu lagi ceritanya.
Dari puing batu-batu ritual ada fakta dan tanya. Ada fakta sejarah terbuatnya tempat tersebut. Lalu pernah dipakai dan sudah ditinggalkan. Ada penegasan tentang perubahan dan dinamika budaya. Peran komunitas pemilik dan pengaruh dari luar saling berinteraksi, lalu generasi pewaris membuat pilihan dan keputusan sesuai kebutuhan zamannya.
Manusia diubah waktu dan zaman, manusia mengubah diri dan berkreasi dalam ruang dan waktu untuk memberi makna bagi kehidupannya. Manusia memenuhi aneka kebutuhan hidup sesuai konteksnya.
Ada tanya yang mengusik peminat tradisi dan ilmuwan. Mengapa kampung tua di tradisi adat budaya ditinggalkan. Mengapa batu-batu ritual sekarang hanya puing sejarah. Apakah nanti akan dihilangkan zaman, karena bisa berubah fungsi bagi generasi berikut. Semua pertanyaan pasti akan ada jawaban sesuai perubahan zaman; baik untuk para pewaris maupun pihak luar yang berminat. Mungkin bisa jadi obyek penelitian arkeologi, atau juga menjadi obyek pariwisata budaya. Entahlah.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

